Tigerair, yang 40 persen sahamnya dimiliki Singapore Airlines, menyatakan pihaknya pun memiliki pilihan untuk membeli 13 pesawat tambahan, dan merubah A320neo ke model yang lebih besar A321neo.
Pesawat yang diklaim hemat bahan bakar itu akan mulai dikirimkan pada 2018 sampai 2025, seperti yang dinyatakan pihak maskapai dikutip dari AFP, Senin (24/3/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pesawat A320neo akan diperkuat dengan mesin Pratt and Whitney PW1100G-JM. Maskapai mengatakan, pesawat ini yang akan menggantikan A320ceo ini memiliki jangkauan yang lebih jauh "yang akan memungkinkan Tigerair untuk terbang ke rute baru dan menjanjikan".
Dikatakan juga perpaduan dari mesin Pratt dan Whitney dan sayap yang lebar bisa menghemat bahan bakar hingga 15% dibandingkan dengan generasi dari A320ceo.
"Ini diperikirakan bisa menghemat hingga SG$ 40 juta dalam setahun, dihitung berdasarkan dari pengeluaran bahan bakar maskapai saat ini," sebut Tigerair.
Pesanan pesawat ini diketahui setelah maskapai dilaporkan menglami kerugian SGD 118,5 juta atau sekitar US$ 93 juta selama 3 bulan hingga Desember 2013, karena persaingan ketat di sektor penerbangan murah di Asia.
"Kita sudah mengukur ulang strategi kita dan mengambil langkah yang penting untuk membuat Tigerair semakin cerah di masa depan," kata TIgeriar Group Chief Executive Koay Peng Yen.
"Kesepakatan ini secara efektif membuang anggapan dari potensi kapasitas yang akan digantungkan dalam beberapa tahun lagi. Itu juga membuat kami terus melanjutkan membangun posisi terdepan dalam ukuran maskapai penerbangan murah.
Maskapai menyatakan, meski kesepakatan yang tertuang dalam katalog senilai US$ 3,8 miliar, namun harga yang sudah dinegosiasikan "sangat lebih rendah".
(zul/dru)