Peredaran minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) asal Indonesia mengalami banyak hambatan untuk masuk ke Uni Eropa. Salah satunya adalah pengenaan bea masuk yang tinggi sebesar 18,9%.
Pihak Eropa mengklaim, CPO Indonesia diproses dengan cara yang tidak benar dan merusak lingkungan. Namun beberapa pihak beranggapan penyebab utama kampanye hitam adalah karena persaingan dagang produk sejenis di Eropa.
"Ini perang dagang. Ini yang harus kita counter (serang balik)," ungkap Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Nus Nuzulia Ishak kepada detikFinance seperti dikutip, Rabu (25/03/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi isu ini harus bisa kita tangani. Bila tidak Amerika dan China, kita takut ada pengaruh dari adanya kampanye hitam di Uni Eropa," jelasnya.
Ekspor sawit atau CPO dan produk turunannya memang menjadi komoditas ekspor unggulan Indonesia ke dunia. Menurut data Kementerian Perdagangan ekspor CPO adalah yang kedua terbesar setelah batu bara.
Rata-rata setiap tahun Indonesia mengekspor CPO dan produk turunannya senilai US$ 16,5 miliar. Bahkan pemerintah berani mentargetkan ekspor CPO dan turunannya mengalami peningkatan di tahun 2014 sebesar US$ 18,5 miliar dan US$ 18,7 miliar atau tumbuh masing-masing 5% dan 6%.
Sementara itu untuk data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) volume ekspor CPO dan PKO beserta produk turunannya pada 2013 ini mencapai 21,2 juta ton, atau naik 16% dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 18,2 juta ton. Adapun produksi CPO dan turunannya 2013 diprediksi mencapai 26 juta ton atau turun 1,9% dibandingkan dengan produksi tahun lalu sebesar 26,5 juta ton.
Indonesia adalah pemasok utama kebutuhan CPO ke Eropa. Setiap tahun rata-rata ekspor CPO Indonesia ke Eropa mencapai 3,5 juta ton, sedangkan kebutuhan CPO Eropa mencapai 6,3 juta ton. Malaysia di tempat kedua dengan nilai ekspor mencapai 1,5 juta ton.
(wij/dnl)











































