Benarkah Sawit RI Tidak Ramah Lingkungan dan Merusak Kesehatan?

Sawit RI Vs Kampanye Hitam Eropa

Benarkah Sawit RI Tidak Ramah Lingkungan dan Merusak Kesehatan?

Wiji Nurhayat - detikFinance
Rabu, 26 Mar 2014 15:21 WIB
Benarkah Sawit RI Tidak Ramah Lingkungan dan Merusak Kesehatan?
Jakarta - Pengusaha sawit membeberkan beberapa tuduhan yang disampaikan Uni Eropa (UE) atas tuduhan produk sawit (CPO) Indonesia yang tidak ramah lingkungan dan merusak kesehatan. Apakah tuduhan UE atas produk sawit Indonesia tepat sasaran?

"Tidak benar baik tuduhan isu kesehatan maupun isu lingkungan," tegas Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Fadhil Hasan kepada detikFinance, Rabu (25/03/2014).

Menurut Fadhil, serangan isu kesehatan yaitu adanya kandungan lemak jenuh sudah terbukti tidak benar dan telah melakukan uji laboratorium di UE. Sedangkan masalah isu lingkungan, Fadhil mengakui, bila ada sebagian kecil petani sawit yang membuka areal hutan secara ilegal. Tetapi hal itu bukan berarti bisa digeneralisasikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Isu kesehatan sudah terbantahkan dan tidak benar. Lingkungan soal deforestasi, sawit ditanam di lahan HPH (Hak Pengelolaan Hutan). Memang kalau ada sebagian kecil yang membuka areal konsesi dari lahan hutan. Tetapi tidak bisa digeneralisasikan. Dalam sistem peraturan kehutanan memungkinkan konsesi hutan menjadi perkebunan atau pemukiman," tuturnya.

Fadhil menganggap, apa yang dituduhkan EU lebih disebabkan karena masalah persaingan dagang produk sejenis sawit. Menurutnya, UE melakukan proteksi agar produk sejenis sawit bisa dijual bebas dan tidak mendapatkan hambatan dengan adanya produk sawit Indonesia.

"Kalau kita lihat yang melakukan kampanye hitam adalah negara yang menghasilkan minyak nabati. Seperti AS dengan kacang kedelai, UE dengan reepseed dan sun flower (bunga matahari). Ini adalah bagian dari apa yang dilakukan NGO (non government organization) yang melakukan kebijakan perdagangan protektif. Lebih disebabkan karena persaingan dagang produk sejenis sawit Indonesia," jelasnya.

Seperti diketahui, produk sawit atau CPO Indonesia kembali diserang dan ditolak masuk ke negara Uni Eropa melalui berbagai macam kampanye hitam.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi didampingi wakil dari Indonesia Palm Oil Custommer Care serta petani sawit dari Aceh dan Sumatera Utara bahkan minggu lalu (17-18 Maret 2014) harus terbang ke Uni Eropa. Mereka melakukan dialog industri kelapa sawit di Parlemen Eropa Uni Eropa (UE) yang berkedudukan di Brussel, Belgia.

Bahkan Bayu sempat berdebat di Parlemen Eropa mengenai minyak sawit berkelanjutan (sustainable palm oil). Dalam kesempatan itu, Bayu menegaskan bahwa minyak sawit adalah komoditas utama dan penting bagi perekonomian Indonesia. Bayu juga menyampaikan kembali keseriusan dan komitmen penuh Pemerintah Indonesia dalam menerapkan sustainable palm oil.

Menurut data Kementerian Perdagangan, Indonesia adalah pemasok utama kebutuhan CPO ke Eropa. Setiap tahun rata-rata ekspor CPO Indonesia ke Eropa mencapai 3,5 juta ton, sedangkan kebutuhan CPO Eropa mencapai 6,3 juta ton. Malaysia di tempat kedua dengan nilai ekspor mencapai 1,5 juta ton.

(wij/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads