Rokok Kretek, Penopang Ekonomi di Zaman Belanda

- detikFinance
Kamis, 27 Mar 2014 21:16 WIB
Foto: Buku Industri Kretek
Yogyakarta - Industri rokok kretek mampu menjadi penopang ekonomi di zaman Belanda saat Hindia Belanda mengalami krisis Malaise pada tahun 1930-an. Saat itu semua industri/perusahaan milik Belanda seperti gula mengalami kebangkrutan.

Sementara itu industri rokok kretek bertahan. Itu disebabkan karena industri rokok kretek dikonsumsi penduduk pribumi dan dikelola para saudagar-saudagar pribumi.

"Saat itu semua perusahaan-perusahaan besar milik Hindia Belanda hancur dihantam depresi ekonomi. Sedangkan industri kretek tidak," kata sejarawan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Sri Margana dalam acara peluncurkan buku 'Kretek Indonesia Dari Nasionalisme hingga Warisan Budaya' di Ruang Seminar Perpustakaan UGM, Yogyakarta, Kamis (27/3/2014).

Menurut dia, industri kretek dulu pernah jadi tulang punggung perekonomian Hindia Belanda yang terhantam krisis, yang disebut krisis Malaise tahun 1930-an.

Industri kretek sebagian besar berbasis di desa sebagai industri rumahan. Meski begitu, industri ini mampu berkembang sangat pesat.

"Industri kretek ini merupakan satu-satunya industri milik pribumi. Namun kita tidak akan menemukan orang pribumi yang menjadi direktur perusahaan-perusahaan besar saat itu," kata Margana.

Saat itu, lanjut Sri, industri kretek di Indonesia zaman Hindia Belanda merupakan sumber ekonomi para penduduk pribumi. Alasannya, dari hulu ke hilir, seluruh bahan baku pembuatan kretek berasal dari orang-orang pribumi.

"Jika perusahaan milik Belanda, kita hanya menjadi kuli. Namun pada industri kretek tidak terjadi demikian," katanya.

Dalam sejarah, banyak pengusaha muslim di Jawa yang sukses dalam industri kretek. Zaman pendudukan Belanda, industri kretek jadi sumber ekonomi para pribumi. Hal itu dikarenakan dari hulu ke hilir, seluruh bahan baku pembuatan kretek bersasal dari orang-orang pribumi.

Selain itu industri kretek juga ikut membangun jaringan ekonomi yang sangat luas. Banyak yang menggantungkan hidupnya dari industri kretek, mulai pemilik toko, asongan, warung-warung, dan pekerja industri rokok.

Lebih dari itu, kretek sebagai warisan budaya Indonesia mempunyai ciri khas pada rasa dan aromanya. Keunikan inilah yang bisa mengategorikan kretek sebagai warisan budaya.

"Apalagi ramuan dalam setiap merek diwariskan secara turun-temurun," ungkap Ketua Jurusan Sejarah itu.

Menurut Sri, kretek selalu menjadi fenomena menarik di Indonesia. Selama ini kretek selalu dikaitkan dengan kesehatan, kebijakan politik, sampai hubungannya dengan sosio-kultural masyarakat Indonesia. Namun sangat jarang yang mengkaji kretek dari sisi historis.

Sri mengisahkan, gagasan menulis buku ini timbul dari keinginannya menambah khasanah kajian kretek di Indonesia. Ia menegaskan, tim penulis buku ini tidak ingin terjebak pada kebijakan kesehatan atau mendukung industri rokok.

Dia mengakui, dari sisi kesehatan, rokok dianggap buruk oleh sebagian masyarakat. Namun dari sisi perjalanan sejarah Indonesia, industri rokok kretek mampu menjadi salah satu penopang perekonomian saat itu.

"Buku ini merupakan penafsiran atas fakta-fakta sejarah yang terjadi pada industri kretek di Indonesia awal abad ke-20," kata dia.

Sementara itu Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM Dr Aprinus Salam menambahkan, rokok berasal dari sisi filosofi asap. "Tidak ada kretek kalau tidak ada asap," tuturnya.

Baginya, esensi kenikmatan merokok berasal dari asap yang dihasilkan. "Asap rokok itu kan rasanya berbeda-beda, setiap orang punya seleranya masing-masing," kata Aprinus.

(dnl/dnl)