Hal itu diungkapkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Rabu (2/4/2014).
"Buat info bahwa Blackberry itu sudah datang pada saya, punya komitmen untuk bangun di Indonesian. Meskipun terlambat, kan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan," kata Lutfi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi saya yakin juga mungkin dengan proses disinsentif itu kita akan punya industri telepon yang mestinya hebat di masa yang akan datang," imbuhnya.
Sementara itu, Lutfi juga mengusulkan adanya pengenaan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) untuk produk handphone dan tablet. Cara itu dilakukan selain untuk meredam importasi telepon genggam dan tablet, juga menumbuhkan industri telepon genggam di dalam negeri.
"Di Kemendag kita atur tata caranya. Sedangkan fiskalnya itu diatur oleh antara tim tarif yang diselesaikan antara Kementerian Perindustrian dan Kementerian Keuangan. Tapi kalau ditanya apakah setuju (adanya PPnBM atas HP) atau tidak, saya tentunya setuju karena itu adalah bagian dari proses supaya datang investasinya. Kita punya 220 juta sambungan telepon masak industrinya nggak ada yang datang," jelasnya.
(wij/dnl)











































