Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin) Eddy Yuwono saat dihubungi detikFinance, Kamis (10/4/2014).
"Tahun 90-an, kita ekspor fresh tuna nomor 1 di dunia," kata Eddy.
Saat ini, jumlah tuna tangkapan di Indonesia merosot, karena sejumlah faktor. Salah satu faktornya adalah jumlah kapal yang menyusut, karena mahalnya harga BBM, ditambah berkurangnya subsidi BBM dari pemerintah.
"Faktornya karena berkurangnya kapal itu," katanya.
Dampaknya, Indonesia kini turun peringkat menjadi pengekspor tuna terbesar ke-5 di dunia. "Kita kalah sama Australia, Korea, Jepang, dan Taiwan," katanya.
Kualitas tuna dari Indonesia dikenal bagus dengan harga yang cukup kompetitif. "Berkisar antara 1000-1.300 yen per kg. Itu harga dilelang di Jepang. Itu harga normal dinilai dari kesegaran dan kualitasnya," kata Eddy.
Ia mengatakan, Indonesia memiliki jenis tuna unggulan yang bisa dijual hingga ratusan juta per ekornya. Tuna tersebut disebut southern bluefin tuna. Sesuai namanya, southern, tuna ini banyak dijaring di perairan-perairan daerah selatan.
"Kalau southern bluefin kira-kira 1 ekor itu 100 kg ke atas, ratusan juta (rupiah) kira-kira," katanya.
Di Indonesia, jenis ikan tuna ini banyak dijumpai di laut lepas di perairan Bali. "Itu di Bali banyaknya, fishing ground-nya di dekat Australia," jelas Eddy.
(zul/dnl)











































