Sebulan, RI Impor Mobil 2.500 CC ke Atas Rp 250 miliar

Sebulan, RI Impor Mobil 2.500 CC ke Atas Rp 250 miliar

- detikFinance
Kamis, 10 Apr 2014 13:28 WIB
Sebulan, RI Impor Mobil 2.500 CC ke Atas Rp 250 miliar
Foto: dok detikFinance
Jakarta - Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor mobil 2.500 cc ke atas cukup banyak. Mobil tersebut merupakan kelas mewah. Tercatat pada Februari 2014 impor kendaraan tersebut mencapai US$ 23,9 juta atau Rp 250,9 miliar dengan besaran 1.124 ton .

Seperti tercatat data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, Kamis (10/4/2014).

Angka tersebut memang melonjak cukup drastis dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pada catatannya impor Januari US$ 9,8 juta atau setara dengan volume 545 ton. Artinya ada peningkatan sebesar US$ 14,1 juta.

Namun bila dibandingkan dengan Februari tahun 2013, impor kendaraan tersebut tidak terlalu signifikan. Dilaporkan Februari 2013 sebesar 1.124 ton atau US$ 23,9 juta.

Berikut rinciannya impor pada bulan Februari 2014 berdasarkan jenisnya:


  1. Sedan/station wagon 2.500-3000 cc: 88,9 ton atau US$ 1,9 juta
  2. Van 2 WD 2.500 cc-3.000 cc: 382,5 ton atau US$ 4,8 juta
  3. Van 4 WD 2.500 cc-3.000 cc: 91,4 ton atau US$ 1,8 juta
  4. Sedan/station wagon 4 WD di atas 3.000 cc: 37,4 ton atau US$ 2,03 juta
  5. Mobil bukan Sedan 4 WD di atas 3.000 cc: 289,1 ton atau US$ 5,8 juta.
  6. Sedan/station wagon di atas 3.000 cc: 116,3 ton atau US$ 4,8 juta
  7. Mobil bukan sedan di atas 3.000 cc: 43,3 ton atau US$ 2,3 juta
  8. Mobil jenis lain 2.500-3.000 cc: 10,9 ton atau US$ 79 ribu
  9. Mobil lain di atas 3.000 cc: 78,3 ton atau US$ 1,2 juta
Jika usulan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) disetujui pemerintah, maka mobil-mobil ini nantinya dilarang pakai bahan bakar minyak (BBM) subsidi.

Pasalnya, BPH Migas mengusulkan Kementerian ESDM merevisi Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2013, dengan memasukkan tambahan kendaraan yang dilarang pakai BBM subsidi. Diusulkan kendaraan 1.800 cc ke atas dilarang pakai BBM subsidi. Usulan ini masih dibahas oleh Kementerian ESDM.


(mkl/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads