"Harga ponsel pasti akan terkena dampaknya. Additional minimal 20%," kata Director Marketing and Communications Djatmiko Wardoyo saat ditemui di kantornya, Capital Building, SCBD, Jakarta, Kamis (10/4/2014).
Djatmiko menyebutkan saat ini rata-rata harga ponsel secara keseluruhan di tingkat distributor ada di kisaran Rp 1,146 juta per buah. Sementara di tingkat ritel, rata-rata harganya mencapai Rp 3,4 juta.
"Saat ini range harga distributor secara keseluruhan Rp 1,146 juta. Kalau di ritel, average selling price-nya di angka Rp 3,4 juta," sebut dia.
Namun, Djatmiko mengaku masih optimistis angka penjualan masih akan tinggi. Hingga akhir tahun, pihaknya menargetkan bisa meraih angka penjualan hingga Rp 15 triliun, jauh lebih tinggi dari perolehan penjualan di akhir tahun lalu yang hanya Rp 12,7 triliun.
Sementara laba ditargetkan bisa mencapai Rp 420 miliar hingga akhir tahun ini atau lebih tinggi dari perolehan laba tahun lalu yang hanya Rp 348 miliar.
"Margin kita paling 8-10%. Kalau PPnBM sampai 20% kita dapat untung dari mana. Yang kita khawatirkan tidak hanya penjualan tapi khawatir BM," terang dia.
Djatmiko menambahkan, saat ini kontribusi penjualan perseroan terbesar ditopang dari 5 merek yaitu Apple, Samsung, Nokia, Blackberry, dan Sonny.
"Kita pegang 14 brand, tapi kontribusi terbesar dari 5 merek Samsung, Nokia, BB, Sonny, dan Apple," tandasnya.
Bikin Investor Asing Hengkang
Asosiasi Ponsel Seluruh Indonesia (APSI) meminta kepada pemerintah untuk meninjau kembali aturan penerapan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) untuk telepon seluler (ponsel). Pasalnya, penerapan ini akan berdampak pada hengkangnya para investor asing yang berniat berinvestasi di Indonesia.
Wakil Ketua APSI Lee Kang Hyun mengatakan, penerapan PPnBM dinilai bakal menghambat para investor untuk berinvestasi di Indonesia. Diperkirakan, investor yang bakal mendirikan pabrik ponsel di Indonesia bakal mundur atas kebijakan pemerintah ini.
"Dengan dikenakan PPnBM semua barang yang dianggap mewah akan kena impact, nanti banyak investor yang mau bikin pabrik di sini akan mundur. Ini akan menghambat investasi," kata dia saat ditemui di Capital Building, SCBD, Jakarta, Kamis (10/4/2014).
Lee menjelaskan, dengan penerapan PPnBM ini produk-produk Indonesia juga bakal kalah bersaing. Apalagi, komponen ponsel yang diimpor pun masih harus terkena pajak.
"Mereka bisa berpikir hengkang jadi karena tidak bisa bersaing. Mereka juga berpikir mending impor daripada harus produksi sendiri karena komponen HP juga kena pajak, apalagi satu HP ada 300 komponen, jadi tambah lebih mahal, sementara kalau impor ponsel yang sudah jadi pajaknya 0 persen," terang dia.
Untuk itu, pemerintah harus tegas dalam memberikan insentif untuk investor asing yang mau berinvestasi di Indonesia, misalnya dengan pengurangan atau penghapusan pajak atau bea masuk.
"Yang diharapkan produsen lokal insentif harus jelas. Diwacanakan insentif tapi bentuknya seperti apa. Bikin HP di sini selama komponennya kena pajak ya tidak bisa bersaing. Terus syarat untuk bisa dapat insentif itu jangan hanya perusahaan baru yang investasi Rp 500 miliar, itu terlalu tinggi karena di asosiasi ada yang kecil dan besar," tutupnya.
(drk/ang)











































