Hidayat menanggapi persoalan yang menyebabkan Foxconn tak kunjung merealisasikan investasinya. Menurut Hidayat, lahan memang menjadi persoalan tak hanya di sektor infrastruktur, tapi juga industri.
"Jadi lahan itu memang sering ada masalah tak hanya di infrastruktur. Soal Foxconn, kalau disewa KBN (Kawasan Berikat Nusantara, Cakung) tidak mau. Tapi saya tidak mau ikut campur, itu kan business to business," kata Hidayat ditemui di Kantor Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Kamis (10/4/2014).
Menurut Hidayat, realisasi pabrik pembuat komponen iPad dan iPhone itu bisa terealisasi asal Foxconn mau membeli lahan KBN dengan harga komersial. Bila itu dilakukan, maka Foxconn bisa segera berinvestasi. Atau opsi kedua, KBN diikutkan dalam kepemilikan saham perusahaan tersebut nantinya.
"Kalau dia (Foxconn) mau membeli dengan komersial rate-nya KBN, ini selesai! Atau KBN dimasukan sebagai equity (saham), itu lebih bagus," tutur Hidayat.
Hidayat juga menuturkan, dasar perjanjian antara pemerintah provinsi DKI Jakarta dengan Foxconn belum kuat karena masih sebatas Memorandum of Understanding (MoU). Oleh karenanya, itu tidak cukup mendorong investasi ini disegerakan realisasinya.
"Itu masih non legal binding. Harus diperkuat head of agreement," jelasnya.
Sebelumnya, Direktur Utama KBN Sattar Taba mengatakan, dirinya tidak mau bila Foxconn hanya menyewa lahan di kawasannya. Dia ingin berperan sebagai pemegang saham.
"Nggak menarik kalau sewa, saya mau masuk kelola. Kalau leasing (sewa) harga kecil, kita 100 ha cuma dapat Rp 100 miliar. Kalau shareholder (pemegang saham) kita dapat Rp 1 triliun. Itu kita bisa dapat per tahun," sebut Sattar.
Saat ini KBN mengelola kawasan industri seluas 700 hektar. Lahan milik KBN sangat tepat dan strategis untuk lokasi pabrik Foxconn. Saat membangun pabrik di KBN, produk-produk elektronik produksi Foxconn bisa langsung dikapalkan dan dikirimkan ke negara tujuan karena lokasi KBN yang dekat dengan pelabuhan.
"Tidak ada lahan secantik ini. Lokasinya di bibir pantai. Juga biaya logistik bisa turun," terangnya.
(zul/dnl)











































