Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhefi Sikumbang menyatakan Indonesia sejatinya bisa memenuhi kebutuhan domestik karena ada produksi kakao yang masih diekspor.
"Kenapa kita harus 0% padahal kita masih ekspor biji kakao per tahun mencapai 188.000 ton. Apakah pantas bila situasi kita masih bisa ekspor tetapi kita malah melakukan penurunan tarif," kata Zulhefi saat diskusi tentang Kakao: Menembus Pasar Kakao Eropa di JIExpo Kemayoran Jakarta, Selasa (15/04/2014).
Data Askindo mengungkapkan per tahun kapasitas giling biji kakao mencapai 600.000 ton. Dari jumlah itu sebanyak 188.000 ton biji kakao diekspor ke berbagai negara.
Menurutnya jika rencana ini direalisasikan oleh pemerintah, maka yang diuntungkan hanya satu pihak yaitu pelaku industri olahan kakao. Sedangkan yang dirugikan adalah petani kakao lokal.
"Tentu industri berminat melakukan pembebasan bea masuk karena mereka mudah mendapatkan bahan baku. Setelah itu efeknya adalah harga kakao di tingkat petani di Indonesia cenderung ditekan karena pelaku industri ada pilihan untuk mendapatkan pasokan lebih mudah dari impor," imbuhnya.
Ia memastikan efek jangka panjang dari rencana ini nantinya adalah banyak para petani kakao yang akan beralih ke komoditas pertanian lainnya yang lebih menguntungkan. Saat ini Askindo mencatat ada 1,2 juta petani kakao dengan total lahan sebesar 1,6 juta hektar.
"Petani kakao ini nantinya akan beralih ke komoditi lain, karena harga yang diberikan tidak menguntungkan lain seperti karet, sawit, cengkeh dan jagung. Jadi perlu kajian apakah harus di-nol kan bea masuk impor kakao ini. Kita tidak mau kejadian seperti jagung, tebu juga terjadi di kakao," cetusnya.
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengusulkan bea masuk impor biji kakao diturunkan dari 5% menjadi 0%. Tujuannya untuk menumbuhkan industri olahan kakao di dalam negeri. Ide ini juga telah mendapat tanggapan positif dari Menteri Pertanian Suswono.
"Kita sepakat untuk impor biji kakao itu dinolkan," kata Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi beberapa waktu lalu.
Lutfi mengatakan, banyak nilai tambah jika industri pengolahan coklat di dalam negeri terus dikembangkan. Contohnya saja, dari kakao menjadi bubuk coklat nilai tambahnya bisa menjadi 4 kali lipat. Indonesia memang menjadi produsen kakao terbesar ke-3 dunia namun masih impor kakao.
(wij/hen)











































