"Malaysia paling banyak menyerap produk kakao Indonesia. Industri olahan cokelat dan makanan cokelat di Malaysia tumbuh sangat pesat," ungkap Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhefi Sikumbang saat berdiskusi terbatas tentang Kakao: Menembus Pasar Kakao Eropa di JIExpo Kemayoran Jakarta, Selasa (15/04/2014).
Askindo mencatat pada 2013 ekspor biji kakao Indonesia ke Malaysia mencapai 126.000 ton dari total ekspor biji kakao secara keseluruhan mencapai 188.000 ton atau sekitar 67% dikirim ke Negeri Jiran tersebut.
Sedangkan ekspor dalam bentuk bubuk kakao Indonesia ke Malaysia di tahun 2013 mencapai 26.000 ton dari 113.468 ton total ekspor bubuk kakao secara keseluruhan.
Hal yang sama juga terjadi dalam bentuk pasta kakao. Ekspor mayoritas pasta kakao Indonesia adalah ke Malaysia dengan volume mencapai 18.000 ton dari 41.950 ton volume ekspor secara keseluruhan.
"Bahkan sampai kekurangannya, Malaysia juga banyak impor dari Afrika," imbuhnya.
Menurutnya keuntungan mengekspor dalam bentuk biji dan setengah olahan kakao relatif sangat rendah. Sehingga harus ada industrialisasi produk olahan kakao sampai produk jadi seperti makanan cokelat siap konsumsi. Kakao yang sudah diolah menjadi makanan cokelat memiliki nilai tambah yang sangat besar.
"Kalau biji kakao diolah menjadi powder dan butter lalu diekspor hanya 3% keuntungannya. Yang paling menguntungkan adalah makanan cokelat. Akhirnya kita bisa hasilkan produksi makanan cokelat sendiri hingga bisa diekspor seperti Top, Beng-Beng yang bisa hasilkan produk bernilai tambah," jelasnya.
(wij/hen)











































