"Kita melayani maskapai dari 54 negara, semua benua ada. Itu yang sudah kita layani," kata Direktur Utama GMF Richard Budihadianto saat ditemui di kantor pusat GMF, Cengkareng, Kamis (24/4/2014).
Porsi maskapainya adalah 65% pesawat Garuda Indonesia dan 35% maskapai selain Garuda Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk perawatan 'air force one' Indonesia, GMF tidak mengalami persoalan berarti. Richard menjelaskan pesawat kepresidenan tipe BBJ 2 serupa dengan pesawat Boeing 737-800 NG. GMF telah berpengalaman merawat pesawat tipe tersebut.
"Nggak ada masalah. Itu sama dengan pesawat Garuda 737-800," sebutnya.
Untuk melayani bisnis perawatan pesawat, GMF memiliki 3 hanggar raksasa di Cengkareng. Kapasitas perawatan pesawat akan bertambah ketika hanggar ke-4 yang sedang dibangun bisa dipakai. Pada September 2014, hanggar ke-4 telah siap memperkuat kapasitas GMF.
"Hanggar 4 dibangun untuk pesawat narrow body seperti Boeing 737 dan Airbus 320. Jumlah yang masuk bisa 16 pesawat sekaligus," terangnya.
Perawatan pesawat memakan waktu yang bervariasi. Waktu terlama adalah 30 hari yaitu untuk perawatan menyeluruh. Namun perawatan menyeluruh ini dilakukan 5 tahun sekali.
Untuk meningkatkan kapasitas, GMF juga tertarik mengelola atau membeli bisnis perawatan pesawat milik PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) yakni Merpati Maintenance Facility. Fasilitas ini sangat dibutuhkan seiring tumbuhnya jumlah armada pesawat di Indonesia.
"Buat Indonesia, kapasitas perawatan pesawat masih kurang dibandingkan dengan pertumbuhan armada. Otomatis fasilitas MMF dibutuhkan," sebutnya.
Namun hingga kini penawaran terhadap pengelolaan MMF belum masuk ke anak usaha Garuda Indonesia ini. MMF sendiri rencananya dijual untuk membantu permodalan Merpati.
"Kita lihat penawarannya, kondisi atau business deal seperti apa. Itu satu opportunity kembangkan fasilitas, bisa lebih cepat tanpa membangun," sebutnya.
Richard menerangkan bisnis perawatan pesawat terus meningkat. Tahun lalu, GMF berhasil meraup pendapatan US$ 230 juta dan laba bersih US$ 19 juta. Sedangkan tahun ini, target perolehan laba turun menjadi US$ 16 juta karena beban investasi.
"Peningkatan revenue 8% dari tahun lalu. Dalam 5 tahun terakhir revenue naik 7-8%, tetapi pernah sampai 10%," tuturnya.
(feb/hds)











































