Sekretaris Jenderal Indonesian Synthetic Fiber Maker Association Redma Gita Wiraswasta mengatakan yang terkena dampak paling besar dari kenaikan tarif listrik ini adalah industri golongan I3 dan I4. Di sektor industri fiber, terdapat 5 dari 8 industri yang terpengaruh.
"Ada 2 perusahaan I4 dan 3 perusahaan I3 Tbk (terbuka)," kata Redma kepada detikFinance, Kamis (24/4/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk perusahaan golongan I4 disebutkan Redma adalah perusahaan berskala besar yaitu PT Indorama Synthetic dan PT Asia Pasific Fibers.
"Yang I3 adalah PT Tifico Fiber Indonesia Tbk, Panasia Indosyntec Tbk dan PT Polychem Indonesia Tbk. Itu semua total produksinya 80% dari kapasitas produksi nasional," katanya.
Perusahaan-perusahaan tersebut berlokasi di Tangerang, Bandung, Karawang, Purwakarta di Jawa Barat dan Kendal di Jawa Tengah.
Menurut Redma, sedangkan untuk sektor industri pemintalan, yang terkena dampaknya ada sekitar 8 perusahaan dari total lebih dari 100 perusahaan.
"Contohnya seperti PT Sri Rejeki Isman (Sritex), Aspac, PT Argo Pantes Tbk, itu yang besar-besar. Pasti akan pengaruhi pasar," tutupnya.
Rencananya kenaikan tarif listrik tersebut dilakukan secara bertahap selama dua bulan sekali sampai Desember 2014. Total kenaikan tarif untuk golongan I-3 mencapai 38,9% dan untuk I-4 adalah 64,7%.
Golongan I-3 merupakan industri menengah yang memiliki tegangan menengah dengan daya di atas 200 kVA. Golongan I-4 merupkan industri besar dengan tegangan tinggi dengan daya 30.000 kVA ke atas.
(zul/hen)











































