RI Sempat Jadi Eksportir Gula Terbesar ke-2, Kini Importir Terbesar ke-3

RI Sempat Jadi Eksportir Gula Terbesar ke-2, Kini Importir Terbesar ke-3

- detikFinance
Senin, 28 Apr 2014 14:27 WIB
RI Sempat Jadi Eksportir Gula Terbesar ke-2, Kini Importir Terbesar ke-3
Jakarta - Indonesia harus mengimpor 2,5 juta ton gula rafinasi per tahun atau menduduki peringkat importir gula terbesar ke-3 di dunia. Fakta ini berlawanan dengan kondisi Indonesia 80 tahun lalu ketika era Kolonial Belanda. Pada waktu itu, Indonesia pernah tercatat sebagai eksportir gula terbesar ke-2 di dunia.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Tito Pranoloh saat berdiskusi dengan media di Gedung Gula Negara, Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (28/04/2014).
Β 
"Indonesia punya potensi untuk melakukan swasembada gula karena kita pernah menjadi eksportir terbesar ke-2 di dunia tahun 1930-an sekarang itu kita malah menjadi importir terbesar ke-3 di dunia," ungkap Tito.

Salah satu alasan mengapa Indonesia menjadi importir gula terbesar ke-3 di dunia adalah karena semakin menghilangnya areal tanam perkebunan tebu. Maka dari itu, ia meminta pemerintah untuk memperluas jumlah areal tanam tebu yang saat ini hanya tersisa 470.000 hektar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di atas kertas perlu ada tambahan area 350.000 hektar. Sekarang luas areal tebu kita hanya 470.000 hektar. Jadi ada 800.000 hektar lebih," imbuhnya.

Menurut Tito, jumlah masih jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan Thailand. Saat ini jumlah areal tanam perkebunan tebu di Thailand mencapai 1,2 juta hektar.

Tito menjelaskan, pemerintah harus ikut campur tangan dalam penyediaan lahan perkebunan tebu baru. Selain itu, program revitalisasi pabrik gula juga perlu dilakukan dan pembangunan pabrik gula baru.

"Satu pabrik perlu 25.000 hektar atau ada tambahan 14 pabrik baru. Pemerintah harus punya kebijakan lahannya disediakan. Kemudian revitalisasi pabrik gula lama ini juga penting. Di Thailand kapasitasnya 13.000 ton/hari dia giling kita hanya 3.000 ton/hari," jelasnya.

(wij/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads