Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Tito Pranoloh saat berdiskusi dengan media di Gedung Gula Negara, Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (28/04/2014).
Β
"Indonesia punya potensi untuk melakukan swasembada gula karena kita pernah menjadi eksportir terbesar ke-2 di dunia tahun 1930-an sekarang itu kita malah menjadi importir terbesar ke-3 di dunia," ungkap Tito.
Salah satu alasan mengapa Indonesia menjadi importir gula terbesar ke-3 di dunia adalah karena semakin menghilangnya areal tanam perkebunan tebu. Maka dari itu, ia meminta pemerintah untuk memperluas jumlah areal tanam tebu yang saat ini hanya tersisa 470.000 hektar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Tito, jumlah masih jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan Thailand. Saat ini jumlah areal tanam perkebunan tebu di Thailand mencapai 1,2 juta hektar.
Tito menjelaskan, pemerintah harus ikut campur tangan dalam penyediaan lahan perkebunan tebu baru. Selain itu, program revitalisasi pabrik gula juga perlu dilakukan dan pembangunan pabrik gula baru.
"Satu pabrik perlu 25.000 hektar atau ada tambahan 14 pabrik baru. Pemerintah harus punya kebijakan lahannya disediakan. Kemudian revitalisasi pabrik gula lama ini juga penting. Di Thailand kapasitasnya 13.000 ton/hari dia giling kita hanya 3.000 ton/hari," jelasnya.
(wij/hen)











































