Juru Bicara PT Gunung Garuda Ketut Setiawan mengatakan saat ini saja sebelum ada kenaikan tarif listrik, harga produk baja impor seperti baja paduan (alloy steel) antaralain untuk bahan pembuatan velg, dari Tiongkok jauh lebih murah daripada produk sejenis buatan lokal.
"Produk impor di pasaran lebih murah 15% karena biaya masuk nol, seperti baja paduan (alloy steel) kalau kita US$ 600-700 per ton, kalau dia lebih murah 15%," katanya di acara diskusi tentang Tantangan Industri Baja di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (5/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Harjanto mengatakan, komponen biaya energi atau listrik mengambil peran 30% dari total biaya produksi di sektor industri baja.
"Di industri baja penggunaan listrik 20-30%, bisa dibayangkan komposisi energi listrik besar, kenaikan listrik 64% sangat mempengaruhi biaya produksi," kata Harjanto.
Dikatakan Harjanto, dengan kenaikan tarif listrik ini akan menurunkan daya saing dan berakibat banjirnya produk-produk impor. "Akan membuat Industri dalam negeri condong tidak hanya baja, tekstil akan menggunakan produk impor yang lebih murah," katanya.
Harjanto mengatakan, dengan kenaikan tarif listrik tersebut, biaya produksi besi dan baja di dalam negeri akan naik sekitar 15%. "Saya ada hitung-hitungannya. Kira-kira 15%-an kalau 30% cost structure besi baja itu sampai 30%," katanya.
Untuk meringankan beban para pelaku usaha yang terbebani dengan kenaikan listrik tersebut. Harjanto mengatakan, pemerintah menyiapkan beberapa relaksasi kebijakan untuk beberapa industri.
"Apa yang bisa kita bantu, skenarionya paling tidak kita memberikan sedikit relaksasi. Misalnya semen, bebaskan bea masuk untuk mengimpor generator mesin," jelasnya.
(zul/hen)











































