Produsen Baja Tiongkok Bangun 2 Pabrik Rp 500 Miliar di Indonesia

Produsen Baja Tiongkok Bangun 2 Pabrik Rp 500 Miliar di Indonesia

- detikFinance
Senin, 05 Mei 2014 17:42 WIB
Produsen Baja Tiongkok Bangun 2 Pabrik Rp 500 Miliar di Indonesia
Jakarta - Produsen baja asal Tiongkok, PT Shanxi Haixin Iron and Steel Group berniat membangun dua pabrik baja di Indonesia. Investasi yang ditanamkan senilai US$ 50 juta atau setara Rp 500 miliar.

Dalam investasinya ini, Shanxi Haixin menggandeng perusahaan dalam negerti yaitu PT Trinusa Group. Kedua perusahaan joint venture itu membentuk perusahaan bernama PT Resteel Industry Indonesia. Groundbreaking akan dilakukan di akhir Mei 2014.

"Kemungkinan groundbreaking bakal dilakukan pada akhir bulan ini. Lalu kami akan mulai produksi setelah enam bulan kemudian, atau sebelum akhir tahun sudah bisa menghasilkan produk," kata Komisaris PT Resteel Industry Indonesia, Achmad Fadhillah di kantor Kementerian Perindustrian, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Senin (5/5/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pembangunan dua pabrik besi baja tersebut nantinya akan terfokus di dua wilayah yaitu Batam dan Tojo Una Una (Sulawesi Tengah). Keduanya akan menyerap tenaga kerja sebanyak 2.000 orang.

Achmad menuturkan, kedua pabrik tersebut ditargetkan bisa menghasilkan produk super low carbon nickel titanium dan special steel (baja khusus) dengan kapasitas 100 ribu meter ton per tahunnya untuk satu line produksi. Produk tersebut banyak digunakan untuk kapal dan tank di Tiongkok.

Perusahaan patungan tersebut berencana menambah line produksinya sebanyak 10 line, apabila proyek kedua pabrik tersebut tengah rampung pada 2015.

"Satu line produksi kita investasikan sebesar 50 juta dolar AS, jadi kalau 10 line sekitar 500 juta dolar AS. Ke depan, pemerintah juga seharusnya memberikan insentif kepada kami dengan melihat nilai investasi sebesar itu," katanya.

Dikatakan Achmad proses produksi baja di perusahaan ini menggunakan teknologi yang tak biasa, dengan menghilangkan dua proses pengolahan.

"Jadi dari iron ore (batu besi) bisa langsung menjadi baja. Inilah mengapa dikatakan baja tersebut disebut special steel. Hasil dari teknologi yang memerlukan energi gas ini memiliki kualitas lebih bagus dan tidak memerlukan power plant baru, hemat energi serta ramah lingkungan," papar Achmad.

Model pembangunan industri besi baja seperti ini merupakan yang ketiga di dunia. Setelah sebelumnya, pabrik serupa dibangun di Rusia dan Tiongkok.

"Indonesia menjadi negara ketiga yang bisa memproses baja khusus tersebut. Untuk tahap awal (line produksi satu hingga tiga, red), hasil produksinya akan dikirim ke Tiongkok terlebih dahulu. Setelah itu, line produksi keempat bisa untuk konsumsi di Indonesia," kata Direktur Utama PT Resteel Industry Indonesia Shelby Ihsan Saleh.

(zul/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads