Suami Tak Digaji, Istri Karyawan Merpati Banyak yang Minta Cerai

Suami Tak Digaji, Istri Karyawan Merpati Banyak yang Minta Cerai

- detikFinance
Kamis, 08 Mei 2014 15:15 WIB
Suami Tak Digaji, Istri Karyawan Merpati Banyak yang Minta Cerai
Konferensi pers Sekar Merpati (Foto: Feby/detikFinance)
Jakarta - Serikat Karyawan (Sekar) PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) kembali angkat suara. Gara-gara belum menerima gaji sejak Desember 2014 atau hampir 6 bulan, karyawan Merpati memperoleh berbagai macam masalah.

Selain kesulitan mendapat pemasukan, kini banyak karyawan Merpati yang diminta cerai oleh para istri karena tidak mampu memberi nafkah kepada istri dan anak.

"Banyak istri yang minta cerai. Ini realita yang disampaikan. Ada keluarga pegawai sampaikan ke saya. Saya untuk makan bingung, apalagi bayar sekolah," kata Ketua Sekar Merpati, Purwanto di Saung Garuda Jakarta, Kamis (8/5/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para karyawan Merpati saat ini masih banyak bertahan. Pasalnya jika mengajukan pengunduran diri, pesangon yang diterima relatif kecil. Namun kondisi tersebut juga membuat karyawan Merpati secara terpaksa, ada yang memutuskan mengundurkan diri.

Purwanto juga menerangkan dirinya dan karyawan Merpati sudah beberapa kali menghadap Menteri BUMN dahlan Iskan untuk mengadukan kesulitan yang dihadapi karyawan.

"Kami sudah capek ngadu ke pak Dahlan dan Kementerian terkait," sebutnya.

Kondisi yang terjadi di Merpati, menurutnya merupakan upaya pembiaran dari pemerintah selaku pemegang saham mayoritas. Pasalnya sudah beberapa bulan pasca stop operasi, belum ada tanda-tanda Merpati kembali terbang.

"Ini dilarutkan karena pemilik Merpati negara. Ada indikasi faktor kesengajaan," jelasnya.

Selain itu, Purwanto juga menerangkan dampak stop operasi juga menimpa bisnis yang mendukung aktivitas Merpati seperti bisnis ground handling.

Atas kejadian tersebut, serikat karyawan meminta dukungan Federasi Serikat Pekerja BUMN untuk menyuarakan pendapat mereka. Salah satunya akan mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Kita minta federasi untuk suarakan ke presiden dalam hal ini buat suara terbuka. Nanti ada eskalasi besar kalau ini tidak ditanggapi. Kami meminta bantua federasi Serikat BUMN," sebutnya.

(feb/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads