"Masalah serius yang dihadapi sawit Indonesia adalah kampanye negatif di Eropa. Di Eropa produk makanan diwajibkan mencantumkan label tetapi isinya sangat ekstrem yaitu No Palm and Without Palm," kata Wakil Ketua III Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Delima Hasri Darmawan di acara International Conference & Exhibition on Palm Oil di Street Room, Hotel Manhattan, Kuningan, Jakarta, Senin (19/05/2014).
Ia mengungkapkan minyak sawit di Uni Eropa sering dianggap sebagai pemicu gangguan kesehatan. Selain itu, sawit Indonesia gencar diserang isu lingkungan dan konflik sosial.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Delima meyakini serangan terhadap produk sawit Indonesia sengaja dilakukan karena persaingan dagang. Uni Eropa tidak ingin produk minyak nabati yang mereka hasilkan seperti minyak kedelai, bunga matahari, rapeseed kalah bersaing dengan produk minyak sawit Indonesia. Hal ini disebabkan produktivitas minyak sawit Indonesia lebih besar dibandingkan minyak nabati jenis lainnya.
"Isu negatif lebih karena persaingan dagang baik antar negara penghasil sawit dan antar minyak. Sawit ini lebih tinggi produksinya dibandingkan kedelai, jagung dan rapeseed," cetusnya.
Menurut data Kementerian Perdagangan, ekspor CPO Indonesia ke Eropa cukup besar. Bahkan Indonesia adalah pemasok utama kebutuhan CPO Eropa. Setiap tahun rata-rata ekspor CPO Indonesia ke Eropa mencapai 3,5 juta ton, sedangkan kebutuhan CPO Eropa mencapai 6,3 juta ton.
(wij/hen)











































