"Trennya naik terus. Cukai itu 95% dari rokok. Selalu naik," ungkap Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Agung Kuswandono usai upacara Hari Kebangkitan Nasional di Lapangan Banteng Timur, Jakarta, Selasa (20/5/2014)
Ia mengatakan, konsumsi rokok memang selalu naik karena jenis konsumsinya bersifat in-elastis. Para perokok, menurut Agung akan jarang sekali pindah merek kecuali pada waktu tertentu, harganya menjadi tidak sesuai dengan kemampuan daya beli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau harganya sudah terlalu mahal, mungkin dia akan mencari produk yang mirip dengan harga di bawahnya. Pangsa mungkin akan berpengaruh, tapi sedikit. Tren penerimaan selalu naik," paparnya.
Seperti diketahui, target cukai pada 2014 adalah Rp 116,28 triliun dengan rata-rata bulanan penerimaan cukai Rp 9,69 triliun. Pada bulan Januari realisasinya Rp 8,51 triliun dan naik menjadi Rp 12,91 triliun pada Februari.
Penyebab utamanya adalah konsumsi rokok yang tinggi pada periode tersebut. Ini dipengaruhi oleh agenda pemilihan umum (Pemilu) yang telah dimulai dengan aktivitas kampanye dan semacamnya.
Tercatat volume produksi rokok (HT) Januari juga tinggi, yaitu 26,7 miliar batang dan Februari 38,5 miliar batang. Perkirakan volume produksi HT untuk tahun 2014 ini bisa menyentuh angka sekitar 360-362 miliar batang.
"Kita juga optimistis untuk tahun 2014, penerimaan cukai juga masih akan mencapai target," kata Agung.
(mkl/hen)











































