Ini Alasan Uni Eropa Ketat Terhadap Produk Sawit dan Kertas RI

Ini Alasan Uni Eropa Ketat Terhadap Produk Sawit dan Kertas RI

Bagus Kurniawan - detikFinance
Rabu, 21 Mei 2014 16:06 WIB
Ini Alasan Uni Eropa Ketat Terhadap Produk Sawit dan Kertas RI
Jakarta - Produk minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) dan produk kayu dari Indonesia belum sepenuhnya dianggap sebagai produk yang ramah lingkungan. Dua jenis produk tersebut dituding sebagai penyebab makin meluasnya penggundulan hutan di Indonesia.
Β 
Produk industri kayu dan kertas dari Indonesia menguasai sekitar 10% pasar di Uni Eropa. Demikian pula produk CPO dan turunannya sebagai produk impor terbesar ketiga di Uni Eropa.

"Konsumen Uni Eropa sangat peduli pada produk yang ramah lingkungan terutama dari hasil hutan dan CPO," kata Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Olof Skoog seusai acara The 3rd Convention of Euopean Studies di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (21/5/2014).

Ia mengatakan Uni Eropa merupakan pasar utama bagi produksi hutan Indonesia dengan nilai ekspor rata-rata US$ 1,2 miliar/tahun dari industri kayu dan kertas. Uni Eropa menyerap 33% dari ekspor kayu Indonesia, sisanya diekspor ke Amerika dan Jepang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Skoog produk bidang kehutanan sudah dilakukan perjanjian kemitraan sukarela, namun untuk produk kelapa sawit belum ada perjanjian. Dia berharap pemerintah tetap mendorong para pengusaha untuk tetap memperhatikan pembangunan berkelanjutan.

"Saat ini Uni Eropa, Australia dan Amerika memberi perhatian kepada Indonesia terutama berkaitan dengan kepentingan generasi mendatang dalam proses pengelolaan kekayaan sumber daya alam," katanya.

Sementara itu Wakil Dubes Uni Eropa, Colin Crooks menambahkan produk kelapa sawit dari Indonesia menguasai sekitar 48% pangsa pasar di Uni Eropa. Dalam kurun waktu lima tahuan terakhir, jumlah ekspor CPO RI naik dua kali lipat. Namun Crooks tidak merinci persentase jumlah produk CPO yang berkategori tergolong bahan mentah atau barang yang sudah diolah.

"Ada produk bahan mentah dan ada yang sudah diolah," katanya.

Calon Presiden RI di Mata Uni Eropa

Olof Skoog mengaku dirinya mengikuti perkembangan politik di Indonesia terutama pemilihan umum sekarang ini. Ia berpendapat Presiden Indonesia mendatang setidaknya harus fokus pada pertumbuhan ekonomi, hak asasi manusia, dan berkomitmen pada pembangunan berkelanjutan.

"Presiden yang baru nanti harus tetap terbuka bagi siapapun, menanamkan nilai-nilai demokrasi, norma sosial, membela hak buruh dan memperhatikan kemajuan infrastruktur dan pendidikan," ungkap Skoog.

Ia menegaskan Uni Eropa siap membantu membangun kapasitas dan investasi.

Menurutnya yang diinginkan oleh konsumen dari masyarakat Uni Eropa terhadap produk kayu dan kelapa swait dari Indonesia seharusnya menjadi perhatian pemerintah RI mendatang. Menurutnya, Presiden yang baru harus memperhatikan agar pengolahan kayu dan kelapa sawit jangan sampai merusak kelestarian hutan.

"Pemerintah harus memperhatikan proses pengolahannya dengan baik," pungkas Skoog.

(bgs/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads