Ia beralasan meski Samsung tak membangun pabrik ponsel di Indonesia, namun produsen elektronika asal Korsel ini sudah berinvestasi di Indonesia di bidang elektronika rumah tangga (Home appliances).
"Walau investasi di Vietnam, tapi yang untuk elektronika akan perbesar terus di sini, Smartphone sudah investasi besar di sana (Vietnam) dan memang kalau disandingkan dengan yang diberikan Vietnam tentu tidak bisa persis sama tapi kita punya beberapa keunggulan," ucap Mahendra di Kantor Kemenko Perekonomian, Jumat (30/5/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan keunggulan masing-masing negara dalam hal peluang investasi tidak bisa disandingkan dengan satu faktor saja misalnya Vietnam yang unggul dalam insentif penghapusan pajak penghasilan (PPh) atau tax holidays hingga 30 tahun, sedangkan Indonesia hanya 10 tahun.
"Di Vietnam dari segi besaran pertumbuhan dan keberlanjutan nggak mudah sekarang ini tapi di lain pihak insentif fiskal dia bisa," ujarnya.
Mahendra meyakini Indonesia hanya memiliki 1 kekurangan saja yakni tidak bisa memberikan tax holidays dalam waktu yang panjang.
"Kekurangan kita hanya itu saja, lahan bisa dibicarakan dengan calon mitranya bukan dari pemerintah. Hal-hal yang sifatnya tingkat b to b nggak masuk, kalau di luar itu isunya terkait insentif fiskal. Investor lihat secara menyeluruh," tutupnya.
Seperti diketahui, Samsung hadir di Indonesia pada Agustus 1991, setelah izin investasi dari BKPM keluar. Samsung mulai membangun pabrik yang terletak di kawasan indusutri Jababeka, Cikarang dan selesai pada Juni 1992.
PT Samsung Electronics Indonesia memproduksi beberapa produk elektronik rumah tangga, seperti televisi dan DVD player dan lainnya.
(rrd/hen)











































