Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah meluncurkan mobil murah ramah lingkungan (Low Cost Green Car/LCGC). Mobil murah awalnya dikonsep memakai BBM non subsidi.
Namun pemilik LCGC akhirnya lebih memilih membeli premium karena lebih murah. Akibatnya, pemerintah semakin terbebani karena anggaran subsidi BBM melonjak.
Bagaimana tim ekonomi kubu capres-cawapres Joko Widodo dan Jusuf Kalla menilai LCGC?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini mau kurangi BBM kok pakai LCGC? Itu contoh-contoh kebijakan inkonsisten. Ujung-ujungnya fiscal deficit jadi tinggi karena kuota terus bertambah. Industri otomotif juga nggak dikendalikan," kata Arif di Gedung Permata Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (5/6/2014).
Arif menuturkan konsep kendaraan green car ke depan harus diperjelas. Green car harus memakai BBM non subsidi dengan oktan tinggi seperti pertamax.
"Kita kembalikan konsep green car. Apakah mobil yang makan BBM oktan di bawah 90 masuk green car? Green car itu harus pakai low carbon (oktan di atas 90). BBM oktan rendah justru ciptakan karbon lebih banyak karena pembakaran nggak sempurna, lebih boros," jelasnya.
Jika Jokowi-JK terpilih, pihaknya akan melakukan pertemuan dengan pemerintah dan industri otomotif terkait kebijakan LCGC.
"Kita harus ajak litbang Kemenperin dan industri otomotif untuk mendudukan konsep green car. Itu harus diperbaiki aturannya," sebutnya. (feb/hds)











































