Menurut CT, dari data ekonomi yang ada sektor investasi di Batam bergerak stagnan, dari 2009 hingga sekarang. Padahal kota ini masuk dalam status Free Trade zone (FTZ). Artinya perdagangan dan investasi di sini mendapat sejumlah insentif fiskal atau pajak.
Namun yang dilihat CT, saat ini Batam menjadi kota yang pertumbuhan konsumsi masyarakatnya meningkat luar biasa. Ini tidak sesuai dengan harapan pemerintah yang ingin menjadikan Batam pusat industri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tempat yang dikunjungi oleh CT antara lain adalah Kawasan Industri Kabil dan sejumlah sarana infrastruktur seperti bandara.
Lantas kenapa Batam tidak berkembang sebagai pusat industri di Indonesia? CT mengatakan, kota ini tidak banyak didukung, khususnya soal pengembangan infrastrukturnya.
Sekarang, negara-negara tetangga Indonesia juga sudah memiliki kota yang menjadi wilayah FTZ. Batam harus bersaing keras bila mau menarik investasi asing masuk.
"Batam harus punya nilai kompetitif luar biasa. Akan banyak (investasi) kalau fokus. Harus dikembangkan habis-habisan. Industri alat berat harusnya bisa dikembangkan. Jangan industri konsumsi seperti elektro, itu bisa di mana saja," kata CT.
Jadi menurut CT, industri alat berat di sangat cocok dikembangkan di Batam karena lokasinya yang dekat dengan pelabuhan. CT mengatakan, harusnya sejak dulu ada desain besar pengembangan Batam, termasuk infrastruktur fisiknya.
(dnl/ang)











































