Namun ada keraguan muncul. Menteri BUMN Dahlan Iskan menyebut, Merpati akan sulit bersaing menghadapi maskapai nasional seperti Susi Air hingga Wings Air. Pasalnya maskapai swasta nasional telah melayani hingga pelosok negeri dengan berbagai armada yang efisien.
"Zaman sudah berubah, penerbangan yang dulu perintis itu sekarang menjadi rute komersial. Ada Wings, Trigana, sudah menerbangi terus Susi Air. Rasanya tak mungkin (bersaing) karena banyak saingan," kata Dahlan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (11/6/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Wings yang ATR yang lebih efisien, sementara Merpati kan MA60. Persaingan berat dan MA60 jauh lebih boros," sebutnya.
Pada kesempatan tersebut, Dahlan kembali menyinggung program penyelamatan Merpati. Ada 2 program yang diambil untuk menyehatkan Merpati, yakni restrukturisasi utang dan pembentukan anak usaha.
"Nah itu (restrukturisasi utang) perlu persetujuan Menkeu, Menko, Presiden, dan DPR. Karena persetujuannya begitu banyak, saya perkirakan itu akan memakan waktu yang agak lama. Karena itu saya usulkan konsep yang satu lagi sambil menunggu yang tadi. Yaitu Merpati membentuk anak usaha," ujarnya.
Dengan pembentukan anak usaha, bisnis penerbangan dilayani oleh anak usaha yang menggandeng mitra. Alhasil anak usaha ini bisa terbang tanpa terperangkap dosa-dosa sang induk usaha. Untuk penerbangan yang dibidik adalah rute umroh. Skema bisnis pun akan disesuaikan dengan peta bisnis penerbangan umroh yang semakin semarak.
"Dari Merpati nanti kan kerjasama anak perusahaan. Itu nanti tak perlu beli pesawat, modal kerja, nanti partner yang sediakan tapi kan mereka mau kerjasama dengan anak perusahaan karena mengelola aset Merpati yang masih bisa diusahakan," paparnya.
Seperti diketahui, Merpati berhenti beroperasi sejak Februari 2014 lalu. Gaji para pegawainya juga belum dibayar sejak akhir 2013.
(feb/dnl)











































