Dahlan: Meski Terbang Lagi, Merpati Sulit Bersaing di Penerbangan Perintis

Dahlan: Meski Terbang Lagi, Merpati Sulit Bersaing di Penerbangan Perintis

- detikFinance
Rabu, 11 Jun 2014 13:21 WIB
Dahlan: Meski Terbang Lagi, Merpati Sulit Bersaing di Penerbangan Perintis
Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) menyiapkan program restrukturisasi dan revitalisasi untuk maskapai PT Merpati Nusantara Airlines (Persero). Skema tersebut dilakukan untuk menyelamatkan perseroan dari perangkap krisis modal kerja dan utang yang menggunung agar terbang kembali, melayani penerbangan komersial hingga pelosok negeri.

Namun ada keraguan muncul. Menteri BUMN Dahlan Iskan menyebut, Merpati akan sulit bersaing menghadapi maskapai nasional seperti Susi Air hingga Wings Air. Pasalnya maskapai swasta nasional telah melayani hingga pelosok negeri dengan berbagai armada yang efisien.

"Zaman sudah berubah, penerbangan yang dulu perintis itu sekarang menjadi rute komersial. Ada Wings, Trigana, sudah menerbangi terus Susi Air. Rasanya tak mungkin (bersaing) karena banyak saingan," kata Dahlan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (11/6/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk perbandingan, Merpati memiliki armada MA60, sedangkan Wings Air mengoperasikan pesawat jenis ATR. Pesawat milik Wings Air lebih efisien daripada MA 60 milik Merpati.

"Wings yang ATR yang lebih efisien, sementara Merpati kan MA60. Persaingan berat dan MA60 jauh lebih boros," sebutnya.

Pada kesempatan tersebut, Dahlan kembali menyinggung program penyelamatan Merpati. Ada 2 program yang diambil untuk menyehatkan Merpati, yakni restrukturisasi utang dan pembentukan anak usaha.

"Nah itu (restrukturisasi utang) perlu persetujuan Menkeu, Menko, Presiden, dan DPR. Karena persetujuannya begitu banyak, saya perkirakan itu akan memakan waktu yang agak lama. Karena itu saya usulkan konsep yang satu lagi sambil menunggu yang tadi. Yaitu Merpati membentuk anak usaha," ujarnya.

Dengan pembentukan anak usaha, bisnis penerbangan dilayani oleh anak usaha yang menggandeng mitra. Alhasil anak usaha ini bisa terbang tanpa terperangkap dosa-dosa sang induk usaha. Untuk penerbangan yang dibidik adalah rute umroh. Skema bisnis pun akan disesuaikan dengan peta bisnis penerbangan umroh yang semakin semarak.

"Dari Merpati nanti kan kerjasama anak perusahaan. Itu nanti tak perlu beli pesawat, modal kerja, nanti partner yang sediakan tapi kan mereka mau kerjasama dengan anak perusahaan karena mengelola aset Merpati yang masih bisa diusahakan," paparnya.

Seperti diketahui, Merpati berhenti beroperasi sejak Februari 2014 lalu. Gaji para pegawainya juga belum dibayar sejak akhir 2013.

(feb/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads