Salah satu maskapai asal Timur Tengah ikut berkomentar mengenai hal ini. Country Manager Qatar Airways untuk Indonesia, Chan Cheong Eu, mengatakan banyak tantangan yang dihadapi maskapainya saat beroperasi di Indonesia.
"Infrastruktur bandara di Indonesia masih kurang. Padahal infrastruktur ini paling penting," katanya saat berkunjung ke kantor detikcom, Kamis (12/6/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang ini bandara di Indonesia sudah macet sekali. Kalau kami mau tambah penerbangan itu susah karena masalah waktu harus dioptimalkan," ujarnya.
Menurutnya, ketepatan waktu pesawat tiba dan mendarat menjadi sangat krusial dalam bisnis penerbangan. Pasalnya, hal ini akan mempengaruhi waktu transit untuk penumpang yang akan melanjutkan ke penerbangan berikutnya.
Misalnya jika telat berangkat dari Jakarta, maka pesawat itu akan terlambat mendarat di Singapura. Sementara pesawat berikutnya yang berangkat dari Singapura sudah terlanjur berangkat.
Selain bandara Indonesia yang rata-rata sudah full capacity, masalah lain yang dialami industri penerbangan Indonesia adalah tempat parkir pesawat yang minim. Menurut Chen, minimnya tempat parkir juga membuat maskapai tidak bisa menambah jumlah armada.
"Parkir (pesawat) juga jadi masalah. Sekarang ini Bandara Halim harus dibuka karena Soekarno-Hatta sudah tidak bisa menampung," jelasnya.
(ang/dnl)











































