“Sumatera sisa hanya 15% bandara belum kita terbangi. Kalau Jawa masih banyak (yang belum) karena kita baru terbang ke Cilacap, Pangandaran, Bandung, dan Semarang. Terus Kalimantan sudah 50%, Papua sudah 50%. NTT baru Kupang. Potensinya masih besar,” papar Susi kepada detikFinance di Hotel Hyatt, Jakarta seperti dikutip Senin (23/6/2014).
Untuk mendukung mimpi tersebut, Susi berencana mendatangkan 5-10 unit pesawat setiap tahunnya. Umumnya Susi akan membeli atau menyewa pesawat berbadan kecil dengan kapasitas di bawah 20 penumpang, seperti pesawat jenis Cessna Grand Caravan, Pilatus PC-06 Porter, hingga Dornier 228-202.
“Kita mendatangkan 5-10 pesawat per tahun. Yang dibidik rata-rata pesawat kecil terus yang gede 1-2 unit. Pesawat gede paling 20 seater. Yang paling banyak jenis Cessna Grand Caravan dan Porter,” sebutnya.
Namun untuk menghubungkan wilayah udara Indonesia, Susi mengaku dibutuhkan waktu yang tidak sebentar. "Mungkin 10 tahun lagi. Indonesia besar sekali,” ujarnya.
Seperti diketahui, Susi Air telah melakukan 56.180 penerbangan dan memiliki 43.563 jam terbang sampai tahun lalu. Rata-rata lama penerbangan rute Susi Air adalah 30-45 menit. Sekitar 60% bisnis Susi Air melayani rute-rute komersial dan perintis, sedangkan 40% untuk melayani penerbangan sewa (carter).
Susi menyebutkan bahwa masuknya penerbangan-penerbangan perintis sangat membantu perkembangan wilayah terpencil. Armada Susi Air biasa membawa berbagai barang seperti bahan kebutuhan pokok, angkutan BBM, hingga mengangkut orang sakit.
“Karena kita bawa beras, bawa BBM, bawa orang. Katanya sih jadi agak mendingan dan nggak ada kendala ombak besar. Orang bilang sangat membantu, nurunin harga menjadi lebih wajar. Mudah mebawa orang sakit untuk diobati,” jelasnya.
Selain mimpi menghubungkan seluruh wilayah Tanah Air, Susi juga memiliki rencana besar membawa maskapainya melantai di bursa saham. Harapannya dalam waktu 2-3 tahun ke depan sambil memperbesar bisnis, saham Susi Air bisa tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Itu kalau kita sudah besar, sekarang masih kecil. Terlalu kecil untuk IPO. Aset kita sekarang Rp 1 triliun. Mudah-mudahan nggak ada halangan,” tuturnya.
(feb/hds)











































