"Tapi secara bisnis harus juga dihitung, jangan juga setelah di-launching 5 tahun kemudian hilang," katanya di kantor Kementerian Perindustrian, Senin (23/6/2014).
Hidayat mengakui mengembangkan mobnas memang butuh kemauan politik bagi presiden yang berkuasa. Sehingga butuh dukungan seorang presiden, termasuk dalam hal promosi.
"Karena ini program politik, jadi siapa yang menang, bisa mencanangkan ini supaya lebih populer," katanya.
Mantan Ketua Kadin ini mencontohkan cerita sukses mengembangkan mobil nasional yaitu Hyundai dan KIA yang pemasaran awalnya mendapat dukungan penuh dari pemerintah Korea Selatan (Korsel).
"Semua harus seperti Korea, begitu di-launching, ada yang masih kurang suka harus ditekan, harus dibeli. Kalau di Korea itu bisa dikerahkan mobilisasi pembeli dengan semboyan nasionalisme," katanya.
Calon presiden (capres) nomor urut 1 Prabowo Subianto ingin membangkitkan kembali proyek mobil buatan Indonesia atau mobnas. Hal ini terinspirasi dari maket mobil Beta 97 MPV yang sempat dirancang oleh perusahaan pengusaha Aburizal Bakrie pada era tahun 1990-an.
(hen/hds)











































