"Djakarta Lloyd bisa bangkit dari masa suramnya. Masa 10 tahun terakhir Djakarta Llyod (DL) hidup dari cara ngemplang utang, dari cara jual aset. Tapi kurang dari 3 tahun terakhir, Djakarta Lloyd bisa selesaikan semua persoalannya. Djakarta Lloyd saat ini sudah punya penghasilan 2-3 lipat dari biaya operasional," kata Dirut Djakarta Lloyd Arham S. Torik seperti dikutip Rabu (2/7/2014).
Saat masa kelam, Menteri BUMN Dahlan Iskan sempat berencana menutup Djakarta Lloyd karena opsi penyelamatan perseroan yang kerap menemui jalan buntu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat program restrukturisasi pula, perseroan bisa dipercaya oleh pihak perbankan atau kreditor. Tidak ada lagi kekhawatiran kapal yang dibeli nantinya akan disita oleh para kreditur.
"Saat ini tidak ada ketakutan ke kreditur. Dulu Djakarta Lloyd takut punya aset karena aset pasti disita. Akhirnya pada tanggal 12 Mei kemarin, sudah ikrah di PKPU. Dalam PKPU, utang masa lalunya sudah diselesaikan," tegas Arham.
Utang dari para kreditur yang hampir mencapai Rp 1,5 triliun telah dikonversi menjadi saham. Alhasil, saat ini manajemen harus bekerja keras untuk menggenjot pendapatan hingga mencicil utang yang telah dikonversi ke saham.
Arham juga bercerita, saat menjadi Dirut pada 2013 silam. Waktu itu jumlah karyawan mencapai 750 orang. Karena kepentingan efisiensi, maka karyawan tersebut diberhentikan alias PHK. Saat ini total karyawan Djakarta Lloyd tersisa cuma 32 orang.
(feb/dnl)











































