"Kemarin diluncurkan itu adalah produksi kita sendiri. Local content-nya (komponen lokal) masih rendah. Kira-kira 30%," kata Hidayat pada acara buka bersama di kantor Kementerian Perindustrian, Jl Gatot Subroto, Jakarta Senin (7/7/2014).
Hidayat optimistis industri ponsel bisa berkembang di Indonesia. Ia menargetkan 5 tahun ke depan industri ponsel di dalam negeri bisa menggantikan ponsel impor yang jumlahnya mencapai 60 juta unit per tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya hal itu tak bisa serta merta diwujudkan tanpa kesadaran masyarakat untuk cinta produk dalam negeri, termasuk dalam hal produk ponsel. "Tapi dengan catatan itu kita beli. Itu cita-cita saya," tutupnya.
Dua perusahaan di dalam negeri, yakni PT Sat Nusapersada Tbk (PTSN) dan PT Tata Sarana Mandiri (TSM) memproduksi ponsel ini. PTSN bergerak dari sisi manufaktur dan TSM untuk desain di Batam, Kepulauan Riau. Produk yang diberi nama IVO ini sudah memiliki kandungan lokal 30%, dengan harga di bawah Rp 2 juta.
Smartphone 4G buatan Indonesia yang didukung oleh Qualcomm Snapdragon 400 chipset, menggunakan prosesor Quad Core 1.2 GHz, RAM 1 GB, media penyimpanan berkapasitas 8 GB, kamera 8 MP, dan dual SIM card yang didesain khusus untuk kebutuhan Indonesia.
Smartphone 4G ini juga dapat bekerja pada berbagai frekuensi LTE lain seperti 1.800 Mhz, 2.300 Mhz, 2.600 Mhz, termasuk frekuensi data 3G dan 2G. Jadi, ponsel ini bisa beroperasi di berbagai negara.
(zul/hen)











































