Avtur dan Kurs 'Hantui' Maskapai, Ini Kata Pejabat Air France

Avtur dan Kurs 'Hantui' Maskapai, Ini Kata Pejabat Air France

- detikFinance
Jumat, 11 Jul 2014 16:27 WIB
Avtur dan Kurs Hantui Maskapai, Ini Kata Pejabat Air France
Jakarta - Gejolak nilai tukar hingga mahalnya harga bahan bakar, jadi beban yang menghantui maskapai-maskapai penerbangan, khususnya Indonesia. Bagaimana maskapai Air France menyiasati hal ini?

Senior Vice President Asia Pacific Air France KLM, Patrick Roux menerangkan, bahan bakar menjadi beban terbesar yang dikeluarkan oleh maskapai.

Bahan bakar menyumbang sekitar 50% dari total biaya operasional maskapai. Untuk menyiasati hal ini, Air France melakukan efisiensi di beberapa lini, sehingga terjadi subsititusi biaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita ada kompensasi untuk mengatasi bahan bakar," kata Roux pada acara media briefing di Hotel Shangri-La, Jakarta, Jumat (11/7/2014).

Roux menjelaskan, pihaknya tidak bisa dengan gampang menaikkan tarif saat harga bahan bakar naik dan kurs bergejolak. Karena kenaikan harga bisa mempengaruhi penjualan tiket.

Sedangkan terkait kurs, Air France sangat terbantu dengan operasional maskapai di ratusan negara. Roux menilai, adanya substitusi dari negara yang mengalami stabilitas kurs kepada negara yang sedang dihadapkan pada gejolak kurs, seperti Indonesia.

"Ini keuntungan jaringan yang kita bangun dan keseimbangan pasar, karena ada negara yang nilai tukarnya naik, dan ada yang turun. Jadi itu yang membuat kondisi menjadi seimbang," sebutnya.

Meski dihadapkan pada kenaikan biaya dan dampak krisis global, Air France sama sekali belum memiliki rencana menutup rute-rute internasional. Justru Air France bersama grupnya, yakni KLM, melakukan ekspansi ke kawasan Asia.

"Malah kita ekspansi rute seperti buka Kuala Lumpur, ke Fukuoka dan Haneda Jepang," jelasnya.

Di tengah kondisi sulit ini, justru jumlah penumpang yang diangkut maskapai Air France rata-rata selama 5 tahun terakhir meningkat 11% setiap tahunnya.

"Penumpang kita meningkat 11% dalam 5 tahun terakhir. Kita paham meski 5 tahun terakhir bukan yang terbaik karena masih ada krisis hingga kini," jelasnya.

(feb/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads