2 Pabrik Gula BUMN Akan Ditutup Gara-gara Serbuan Gula Impor

2 Pabrik Gula BUMN Akan Ditutup Gara-gara Serbuan Gula Impor

- detikFinance
Senin, 14 Jul 2014 08:50 WIB
2 Pabrik Gula BUMN Akan Ditutup Gara-gara Serbuan Gula Impor
Jakarta - Pabrik gula milik perusahaan pelat merah sangat terpukul sejak 2 tahun terakhir. Harga gula kristal berbasiskan tebu produksi lokal jatuh akibat serbuan gula rafinasi atau gula kristal putih impor. Padahal gula rafinasi dilarang dijual ke pasar konsumen karena hanya boleh dikonsumsi untuk industri makanan dan minuman.

Karena tidak ada kepastian maka PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) berencana menutup 2 dari 10 pabrik gula miliknya. Sebab BUMN gula ini menanggung tingginya beban operasional namun tidak sebanding dengan harga gula yang rendah.

“Saya di 2015 akan tutup 2 pabrik gula. Mungkin Karang Suwung dan Sindang Laut. 2 Pabrik pertimbangkan untuk ditutup. Itu sudah nggak produktif karena nggak bisa bersaing,” kata Direktur Utama RNI Ismed Hasan Putro kepada detikFinance di Kantor Pusat RNI, Jakarta, akhir pekan lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

RNI juga berencana mengalihkan fungsi lahan tebunya untuk dikembangkan menjadi kawasan industri. Langkah ini perlu dilakukan karena RNI sebagai BUMN harus tetap memenuhi setoran dividen ke kas negara.

“Karena gula sudah nggak jadi industri yang menarik bagi RNI. Kita akan alihkan lahan tebu saya 2.500 hektar di daerah Subang untuk jadi kawasan industri,” jelasnya.

Jika kondisi dibiarkan berlarut-larut tanpa campur tangan pemerintah, maka RNI pada tahun 2016 berencana kembali menutup 1 pabrik gula milik perseroan.

“Nanti di 2016 di Cirebon, 1 pabrik gula juga akan ditutup kalau regulasi pemerintah nggak berpihak ke industri gula nasional. RNI akan kurangi 3 pabrik gula di Jabar,” ujarnya.

Ismed menuturkan biaya operasional yang ditanggung pabrik gula milik RNI terus meningkat. Sedangkan tingkat pertumbuhan harga gula sangat rendah. Apalagi kondisi pabrik gula milik perusahaan pelat merah rata-rata berusia tua sehingga tidak kompetitif.

“Industri gula kita nggak sebanding dengan marjin yang diperoleh dari usaha karena di dalam rumus HPP gula nasional. Capaian cost (kenaikan biaya) per tahun 8-9% sedangkan pertumbuhan harga 1-2,5% per tahun. Jadi ada selisih disitu antara 6-7%,” jelasnya.

RNI dan BUMN produsen gula sudah sangat sering meneriakkan dampak illegal dari rembesan gula rafinasi. Namun hingga kini gula rafinasi masih membanjiri pasar-pasar. Alhasil RNI dan BUMN produsen gula lainnya masih menahan penjualan gula sampai harga kembali normal dan praktek nakal bisa teratasi. Karena harga saat ini sudah sangat memukul produsen dan petani tebu.

“Gula lelang dari pabrik gula dan petani nggak bisa dijual di bawah Rp 8.500. padahal di pasar ada gula rafinasi yang dijual Rp 7.800-8.100 per kg,” ujarnya.

(feb/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads