Sejumlah pihak menyatakan, dua kejadian besar ini membuat masa depan maskapai milik pemerintah Malaysia ini makin suram. Pada dalam 3 tahun berturut-turut, nilai kerugian Malaysia Airlines mencapai US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 13 triliun.
Dua pesawat Boeing 777-200 yang hilang, harga satu unitnya sekitar US$ 261 juta atau sekitar Rp 2,6 triliun. Malaysia Airlines kehilangan 2 Boeing ini dalam waktu 4 bulan di tahun ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, Malaysia Airlines saat ini sangat membutuhkan dukungan dana dari pemerintah, dan nilainya cukup besar.
Dalam bertahun-tahun, Malaysia Airlines telah kehilangan banyak uang. Nilai kapitasilisasi pasarnya juga jatuh lebih dari 40% dalam 9 bulan.
Menurut kabar, BUMN investasi Malaysia yaitu Khazanah Nasional, selaku pemegang saham mayoritas Malaysia Airlines, berencana untuk menjadikan maskapai ini sebagai perusahaan swasta.
Khazanah telah menyuntikkan lebih dari US$ 1 miliar atau Rp 10 triliun ke maskapai tersebut dalam beberapa taun terakhir. Kalangan analis menyatakan, dana investasi dibutuhkan maskapai ini sesegera mungkin.
Analis investasi dari Maybank, Mohsin Aziz mengatakan, tantangan besar tengah dihadapi Malaysia Airlines. Tanpa suntikan dana yang besar, masakapai ini sulit bertahan.
"Kejadian terakhir ini (MH17), mempengaruhi citra Malaysia Airines di Eropa. Apakah merek ini (Malaysia Airlines) bisa bertahan dengan tragedi yang terjadi," ujar pengamat penerbangan Leo Fattorini.
(dnl/dnl)











































