Emirates Ingin Kumpulkan Maskapai Dunia Pasca Insiden MH17

Emirates Ingin Kumpulkan Maskapai Dunia Pasca Insiden MH17

- detikFinance
Senin, 21 Jul 2014 15:56 WIB
Emirates Ingin Kumpulkan Maskapai Dunia Pasca Insiden MH17
Jakarta - Salah satu maskapai terbesar di dunia, Emirates, berniat mengumpulkan maskapai-maskapai penerbangan di seluruh dunia untuk merespons insiden yang terjadi atas pesawat MH17 milik Malaysia Airlines.

Presiden Direktur Emirates, Tim Clark, menyatakan para pelaku industri penerbangan harus membahas ancaman potensial yang bisa muncul gara-gara terbang melewati negara konflik.

Ia juga meminta para pemerintah setempat bekerjasama dengan maskapai jika terdapat potensi konflik di negaranya maupun di regional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Komunitas penerbangan internasional harus segera merespons insiden ini sebagai satu kesatuan, karena hal ini tidak bisa diterima dan dibiarkan. Kami juga tidak bisa toleransi jika maskapai komersial jadi korban atas konflik antar negera," kata Clark kepada Reuters, Senin (21/7/2014).

Ia juga meminta International Air Transport Association (IATA) bisa segera menggelar konferensi internasional, demi merumuskan sikap maskapai dunia dalam menghadapi negara konflik yang sering menjadi rute penerbangan internasional.

Institusi yang bermarkas di Jenewa, Swiss, itu pekan lalu menyatakan masih bergantung kepada pemerintah dan biro penyedia lalu lintas udara untuk menentukan rute yang aman dilalui maskapai.

Namun, menurut Clark yang mengaku sangat kesal atas insiden penembakan pesawat hingga jatuh tersebut, meminta IATA berperan aktif bersama International Civil Aviation Organization dalam menanggapi masalah ini.

"Jika Anda bepergian dari Timur ke Barat atau sebaliknya, di antara Eropa dan Asia, Anda mau tidak mau pasti melewati daerah konflik," ujarnya.

"Biasanya kami (para maskapai penerbangan) bisa mengatasi masalah ini sendirian. Tripoli dan Kabul diserang, Karachi diserang, kami masih punya protokol dan penanggulangan sendiri menghadapi masalah ini," jelasnya.

"Tapi itu tiga hari lulu (sebum insiden MH17). Sekarang ini kits berpikir harus punya protokol baru dan ini bergantung kepada ICAO, IATA, dan pelaku industri penerbangan untuk merancang protokol baru tersebut," ujarnya.

Ia sendiri tidak setuju ide pesawat komersial dipasang alat anti misil. Ide ini awalnya muncul setelah pesawat kargo Airbus A300 ditembak jatuh tak lama setelah lepas landas dari Baghdad.

"Beberapa orang bilang pesawat (komersial) harus punya alat penangkal misil. Ide ini tidak masuk akal. Kalau kami tidak bisa mengoperasikan pesawat secara aman dan bebas, apalagi masih ada ancaman sewaktu-waktu ditembak jatuh, lebih baik kami tidak usah terbang sama sekali," jelasnya.

(ang/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads