Kedua kejadian ini telah mengambil 537 nyawa, dan telah menghancurkan hati keluarga yang ditinggalkan. Kemudian, kedua kejadian ini juga membuat banyak pihak berpikir bagaimana masa depan maskapai tersebut, dan kemampuannya untuk menghadapi badai yang terjadi.
Seorang pengacara penerbangan Justin Green mengatakan, bila kejadian tersebut membuat orang enggan menggunakan maskapai itu, maka Malaysia Airlines akan makin terpuruk
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bulan lalu, BUMN investasi Malaysia Khazanah Nasional--pemilik 70% saham di Malaysia Airlines--mulai berpikir untuk merestrukturisasi maskapai ini dalam 6-12 bulan ke depan. Juru Bicara Malaysia Airlines Asuki Abas tidak mau berkomentar, apakah restrukturisasi ini akan dipercepat, setelah kejadian MH17.
Analis Penerbangan dari Aspire Aviation, Daniel Tsang mengatakan, jatuhnya MH17 di Ukraina menimbulkan pertanyaan serius soal masa depan maskapai tersebut.
"Kebangkrutan merupakan kemungkinan yang tak perlu dipertanyakan," ujar Tsang dilansir dari CNN, Selasa (22/7/2014).
Menurut hukum internasional, Malaysia Airlines bertanggung jawab untuk membayar sekitar US$ 150 ribu atau sekitar Rp 1,5 miliar kepada tiap keluarga korban di kedua penerbangan tersebut.
Selain itu, akan ada juga penuntutan ke maskapai ini. Karena meskipun MH17 ditembak oleh rudal, namun penerbangan tersebut terlalu berisiko karena mengambil rute yang berbahaya. Maskapai penerbangan lain menghindari rute tersebut karena adanya pemberontakan di Ukraina.
Meskipun begitu, Malaysia Airlines ditanggung oleh asuransi, untuk pesawat dan penumpangnya. Memang sedikit maskapai yang bangkrut karena tragedi-tragedi serupa.
Sejauh ini, banyak orang setia dengan Malaysia Airlines. Setelah tragedi hilangnya MH370 pada 8 Maret lalu, jumlah penumpang Malaysia Airlines tidak turun di April. Meskipun di Mei turun 4% dibandingkan Mei 2013.
Jadi, nasib Malaysia Airlines ditentukan oleh seberapa besar dukungan negara kepada maskapai ini.
(dnl/ang)










































