Menanggapi hal ini, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menjamin pasokan gas untuk investasi petrokimia di Papua-Papua Barat sudah terjamin ada.
"Saat ini sedang dipersiapkan pasokan gasnya dari proving up Train III Tangguh yang dioperasikan BP Tangguh," kata Pelaksana Tugas Harian Kepala SKK Migas Johanes Widjonarko ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (23/7/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari sisi kami siap bahwa 200 MMSCFD itu akan tersealisasi," ungkapnya.
Tetapi, saat ini yang menjadi kendala, pembangunan pipa menuju lokasi atau lahan pabrik petrokimia yang membutuhkan gas itu. Harus dipastikan dulu lokasi pabriknya.
"Kalau nanti lahan sudah siap, nanti kami akan buat action plan-nya, pipanya harus seperti apa, diserahkan di mana, kan banyak hal. Itu baru bicara mengenai konstruksinya, nanti bicara lagi mengenai harga gasnya, itu dijalankan semua, kan semuanya sudah ada dalam POD (Plan Of Development)," terang Widjonarko.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Chairul Tanjung mengatakan, realisasi investasi Ferrostaal GmbH di Kabupaten masih terkendala pasokan gas.
"Ferrostaal ingin melakukan pembangunan industri petrokimia di Teluk Bintuni. Investasinya dalam jumlah besar US$ 8 miliar, tapi mereka butuh gas," ungkap menteri yang biasa disapa CT ini.
Pemerintah akan segera memberikan kepastian soal masalah pasokan gas. Selanjutnya akan dikoordinasikan oleh Kepala badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mahendra Siregar.
"Tadi sudah diminta dilakukan koordinasi di bawah BKPM," sebutnya.
Sebagai informasi, Ferrostaal telah memperoleh izin investasi dari BKPM sejak 2012. Ditargetkan realisasi pembangunan mulai tahun 2015.
Investasi itu dilakukan Ferrostaal dengan membangun pabrik yang memproduksi methanol berkapasitas 1,3 juta ton per tahun. Pabrik methanol Ferrostaal akan membutuhkan pasokan gas bumi sebagai bahan baku sebesar 202 MMSCFD. Perseroan sedang menunggu pasokan bahan baku berupa gas bumi dari lapangan Tangguh dan Genting Oil.
Rencananya, hasil produksi pabrik itu dipasok untuk memenuhi kebutuhan lokal mengingat kebutuhan methanol di Indonesia masih diimpor. Methanol merupakan bahan baku dari propilena dan ethilena yang menjadi bahan dasar pembuatan plastik.
Saat ini pasokan methanol lokal baru mencapai 600 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan sebesar 800 ribu ton, sehingga impor mencapai 200 ribu ton.
(rrd/dnl)











































