Namun berkat kerja keras manajemen, Prinus mampu bangkit dari posisi 'pingsan' menjadi 'sehat'. Kinerja keuangan perseroan mulai membaik dalam 3 tahun terakhir.
"Tiga tahun lalu, Prinus merupakan perusahaan yang praktis mati. Dia perusahaan yang luar biasa sulit, pingsan bertahun-tahun. Kita coba sehatkan, dimasukkan ke ICU, kemudian masuk rawat inap dan kemudian rawat jalan. Sekarang sudah sehat dan bisa jalan, tapi belum cepat," papar Dahlan usai rapat pimpinan BUMN di kantor pusat Prinus, Jakarta, Kamis (7/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang sudah sehat saat ada di 4 lokasi yakni Bitung, Sorong, Ambon, Benoa. Dulu mati semua," ujarnya.
Manajemen juga berencana menghidupkan pusat dan pabrik pengolahan ikan di daerah Halmahera, Maluku Utara. Ke depan, daerah ini akan menjadi sentra perikanan terbesar di Indonesia Timur.
"Direksi punya rencana Bacan jadi pusat perikanan di Indonesia Timur, dia lebih besar dari Ambon dan Sorong. Tanggal 29 Agustus ini saya ke Bacan sekaligus yang ke Bitung. Sekarang Bacan belum hidup tapi segera dihidupkan," jelas Dahlan.
Untuk menggenjot pendapatan perseroan, manajemen Prinus berencana menerapkan sistem penangkapan ikan teknologi tinggi. Teknologi ini umum dipakai oleh nelayan di negara-negara maju. Dengan teknologi ini, ikan yang diperoleh bisa melonjak beberapa kali lipat.
"Direksi ajukan konsep baru untuk perikanan modern. Akan gunakan teknologi tinggi untuk penangkapan ikan. Mereka istilahkan tidak tangkap ikan tapi panen ikan. Nanti ikan ditangkap dengan teknologi tinggi. Posisi ikan diketahui," ujarnya.
Di tempat yang sama, Direktur Utama Prinus Abdussalam Konstituanto menerangkan pihaknya sekarang telah mampu mengekspor ikan ke beberapa negara. Ikan yang diekspor adalah jenis cakalang hingga tuna. Prinus mampu mengapalkan ikan ke luar negeri mencapai 5.000 ton per bulan.
"Sekarang sudah ekspor dari pusat di Sorong-Bitung. Rata-rata setiap bulan 5.000 ton, terutama tuna dan cakalang," jelasnya.
Sedangkan untuk kinerja keuangan pada semester I-2014, perseroan mampu memperoleh pendapatan Rp 80,48 miliar dan laba bersih Rp 12,78 miliar. Target hingga akhir 2014, perseroan memproyeksi mampu meraih pendapatan Rp 210,72 miliar dan laba bersih Rp 16,35 miliar.
Sementara realisasi kinerja keuangan 2013 adalah pendapatan Rp 187,91 miliar dan laba bersih Rp 11,56 miliar.
(feb/hds)











































