Pakai Ampas Tebu, Pabrik Gula BUMN Ini Sukses Kurangi Konsumsi BBM

Pakai Ampas Tebu, Pabrik Gula BUMN Ini Sukses Kurangi Konsumsi BBM

- detikFinance
Kamis, 14 Agu 2014 13:49 WIB
Pakai Ampas Tebu, Pabrik Gula BUMN Ini Sukses Kurangi Konsumsi BBM
Jakarta - PT Perkebunan Nusantara X (PTPN X) mengoptimalkan efisiensi pabrik gula (PG) dengan mengoptimalkan manajemen ampas tebu. Dengan ampas tebu, pabrik gula kini tak lagi banyak menggunakan bahan bakar minyak (BBM)

Direktur Utama PTPN X Subiyono mengatakan, ampas tebu adalah bahan bakar hasil produk samping dalam proses pengolahan tebu menjadi gula. Satu ton tebu bisa menghasilkan sekitar 300 kilogram ampas yang bisa digunakan untuk bahan bakar pabrik.

"Ampas tebu itu bahan bakar alami. Jadi kalau PG bisa menghasilkan ampas, berarti PG itu efisien. Ampasnya bisa digunakan untuk menggerakkan mesin tanpa harus menggunakan bahan bakar fosil," kata Subiyono yang juga Ketua Umum Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) dalam keterangan tertulisnya, Kamis (14/8/2014)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mengatakan, pada Pemerintahan Kolonial Belanda, mereka sudah mendesain semua PG bisa mandiri dengan ampas tebu sebagai bahan bakar. Namun, dalam perjalanannya, banyak PG di Indonesia yang justru menggunakan bahan bakar fosil yang sangat mahal, sehingga menimbulkan inefisiensi.

Sejak empat tahun terakhir, PTPN X mengoptimalkan ampas sehingga penggunaan bahan bakar fosil makin menurun. Konsumsi bahan bakar fosil (BBM) PTPN X pada 2007 masih Rp 130 miliar, kemudian dengan mengoptimalkan ampas tebu bisa dikurangi secara terus-menerus hingga menjadi Rp 1,5 miliar pada 2013.

"Kami ingin zero BBM. Insya Allah tahun ini atau setidaknya tahun depan. Kami jadikan ampas tebu sebagai indikator. Jika PG tidak bisa hasilkan ampas tebu, berarti PG tersebut tidak berkinerja baik. PG yang bisa menghasilkan ampas tebu berarti kinerja mesinnya baik. PG yang bisa menghasilkan ampas tebu juga menunjukkan budidaya lahan yang baik," kata Subiyono.

Ia mencontohkan kinerja PG Kremboong yang mempunyai manajemen ampas yang baik. PTPN X telah menginvestasikan dana sekitar Rp 170 miliar untuk PG Kremboong dalam beberapa tahun terakhir, antara lain untuk penggantian gilingan dari manual menjadi otomatis, penambahan turbin listrik, mesin putaran, mesin press ball, dan conveyor radial. Dengan revitalisasi itu, saat ini kapasitas giling PG Kremboong mencapai 2.700 ton tebu per hari. PG Kremboong bisa menghasilkan 2,8 ton ampas per jam.

PG Kremboong menghasilkan 5.103 ton pada 2013. Hingga akhir 2014, PG Kremboong menargetkan bisa mendapatkan kelebihan ampas sekitar 8.480 ton yang akan dijual ke pihak lain, sehingga bisa mendapatkan keuntungan ekonomis.

"PG Kremboong dulu sempat mau ditutup, tapi kita kerja keras. Sekarang sudah sehat, dan bahkan menjadi model yang baik (role model) pengelolaan PG berkapasitas giling antara 2.000-3.000 ton tebu per hari. Dan PG dengan kapasitas tersebut sangat banyak di Indonesia," kata Subiyono.
​
Subiyono menambahkan, selain untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar mesin, ampas tebu bisa digunakan untuk memproduksi listrik melalui program cogeneration. Di seluruh dunia, potensi perolehan ampas mencapai 424 juta ton. Di Indonesia sendiri berkisar 10 juta ton. Satu ton ampas tebu bisa untuk membangkitkan listrik dengan cogeneration sebesar 220-240 KWh.

Di PG Kremboong punya potensi listrik dari ampas tebu mencapai 10 MW. Untuk dipakai sendiri 4,5 MW, sehingga sisanya sebesar 5,5 MW bisa dijual ke PLN.

"Pabrik kami sudah siap, tinggal izinnya diurus dan tentu saja butuh dukungan agar energi terbarukan dari tebu ini bisa optimal," katanya.

Dia mengatakan, di sejumlah negara, cogeneration untuk memproduksi listrik dari ampas tebu sudah dijalankan dengan mengganti boiler bertekanan rendah (7-21 bar) dengan boiler bertekanan tinggi (di atas 80 bar) serta melakukan elektrifikasi pada semua penggerak.

Dengan lahan tebu nasional seluas sekitar 475.000 hektar dan lebih dari 33 juta ton produksi tebu, potensi bisnis listrik dari ampas tebu bisa menembus 3,5-3,8 juta MWH (3.800 GWH)

"Di Brasil, PG-PG yang ada sudah bisa menghasilkan lebih dari 3.000 MW listrik dari cogeneration. Listrik itu digunakan sendiri untuk operasional pabrik. Yang dijual mencapai 506 MW. Di India, kapasitas cogeneration-nya 2.200 MW, dengan daya yang dikomersialkan 1.400 MW," kata Subiyono.

Subiyono mengakui, teknologi yang digunakan untuk produksi listrik dari ampas tebu cukup tinggi dan memakan biaya. Namun, berkaca pada sejumlah proyek di Brasil dan Thailand, investasi yang dikucurkan dalam proyek cogeneration dapat kembali melalui pendapatan dari penjualan listrik dalam periode tak lebih dari 5 tahun.

PTPN X juga sudah mengembangkan program cogeneration di PG Ngadiredjo di Kediri. Pada tahap uji coba, listrik di PG tersebut akan digunakan untuk operasional pabrik dan dijual ke PLN.

"Saat ini sedang tahap perizinan, karena produksi listrik memang butuh izin dari pemerintah," ujarnya.

Di PG Ngadiredjo, sambung Subiyono, PTPN X sudah melakukan simulasi investasi untuk mengembangkan cogeneration. Investasi yang dibutuhkan sekitar Rp 310 miliar dengan perkiraan pengembalian investasi selama 3 tahun. Investasi itu akan digarap secara bertahap.

Menurut Subiyono, saat ini tak bisa lagi industri gula hanya bicara tentang peningkatan produksi gula. Swasembada gula jangan hanya dikerangkai dalam satu konteks pemenuhan produksi gula saja.

"Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun sebuah industri berbasis tebu yang terintegrasi. Harus buat terobosan agar bisa hasilkan ampas banyak, produksi listrik, atau produksi bioetanol dari tetes tebu. Tapi ini memang butuh dukungan regulasi pemerintah, agar pengembangan energi terbarukan berbasis tebu bisa dioptimalkan," jelasnya.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads