Kasubdit Operasi Pengawasan Pesawat Udara Direktorat Kelaikan Udara Pengawasan Pesawat Udara Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub Capt Avirianto mengatakan ada sedikitnya 90 orang pilot lulusan sekolah penerbangan Indonesia masih menganggur atau sudah bekerja namun bukan sebagai pilot.
"Ada 80-90 pilot tidak terserap oleh maskapai penerbangan Indonesia. Yang menyedihkan itu saya pernah naik taksi ternyata sopirnya seorang lulusan sekolah penerbangan. Seorang pilot, itu kan sedih," katanya di Graha Niaga, Jakarta, Jumat (15/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Padahal, di Indonesia ada 23 sekolah penerbangan dan satu angkatan 20 orang lulusan. Hitung saja berapa totalnya pilot yang kita cetak di dalam negeri setiap tahun," katanya.
Perbedaan kualifikasi tenaga penerbang Indonesia dengan tenaga penerbang asing disinyalir sebagai penyebab masih banyaknya maskapai penerbangan yang mempekerjakan tenaga penerbang dari luar negeri.
"Karena banyak pilot dari luar yang datang dengan kualifikasi yang sudah sesuai dengan kebutuhan maskapai yang bersangkutan. Secara bisnis, maskapai tentu akan memilih yang dari luar karena tidak perlu cost tambahan setelah merekrut. Berbeda kalau yang direkrut belum siap pakai, maskapai masih harus melakukan pelatihan lagi dan itu nggak murah," pungkasnya.
(hen/hen)











































