Kasubdit Operasi Pesawat Udara Kementerian Perhubungan Avirianto menerangkan bahwa keberadaan pilot asing yang memiliki kualifikasi lebih unggul menjadi kendala utama mengapa penyerapan tenaga penerbang lulusan Indonesia oleh maskapai penerbangan di dalam negeri masih kurang.
"Perbedaan kualifikasi ini terjadi sejak dari pendidikannya. Banyak sekolah penerbangan kita yang kurikulumnya hanya sampai pendidikan dengan single engine (mesin tunggal). Padahal pesawat maskapai sekarang sudah pakai multi engine (mesin jamak)," ujar Afirianto di Gedung Graha Niaga, Jakarta, Jumat (15/8/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini dibutuhkan agar lulusan sekolah penerbangan Indonesia memiliki kualifikasi yang setara dengan tenaga penerbang dari sekolah penerbangan asing.
"Kurikulum sebenarnya sudah ada. Hanya saja fasilitas untuk pelatihan yang multi engine yang belum tersedia di sekolah-sekolah penerbangan. Saat ini, dari 23 flying school (sekolah penerbangan) baru 3 yang sudah memiliki fasilitas ini," lanjutnya.
Tiga sekolah penerbangan itu antara lain, adalah Bali International Flight Academy, Bandung Pilot Academy dan Braya Flying School.
Selain perbedaan kurikulum, permasalah bahasa agaknya turut menjadi kendala yang tak bisa dielakkan. Ia menyebut, kemampuan bahasa inggris para pilot Indonesia untuk urusan operasional saat terbang, atau istilah-istilah penerbangan memang sudah tidak perlu diragukan.
Namun, penguasaan bahasa inggris dalam percakapan sehari-hari juga dituntut dari para pilot ini.
"Karena kan ada pendidikan yang mentornya pilot dari luar. Kalau tidak mengerti bahasa Inggris, bisa jadi pilot indonesia tidak mengerti apa yang disampaikan. Ujung-ujungnya akan terjadi misunderstanding (kesalahanpahaman). Kalau pendidikannya salah paham, bagaimana bekerjanya nanti," pungkas dia.
Untuk itu, menurutnya, kedua hal itu yang harus menjadi catatan para sekolah penerbang dalam mendidik calon pilotnya.
(ang/ang)











































