Alasan Tiongkok karena melihat pembangunan sektor properti di Indonesia untuk rumah tapak, apartemen maupun perkantoran cukup pesat.
"Melihat pembangunan properti kita meningkat, Tiongkok mendesak untuk memasukkan semennya ke kita," ungkap Sekretaris Direktorat Jenderal Basis Industri Manufaktur, Kementerian Perindustrian Setio Hartono kepada detikFinance di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Kamis (28/08/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga semen yang mereka tawarkan jauh lebih murah. Tetapi kita tetap tidak buka karena semen kita juga punya kualitas internasional dan sesuai SNI (Standard Nasional Indonesia)," imbuhnya.
Menurut Setio, produksi semen dalam negeri tiap tahun terus meningkat. Di tahun 2013 Indonesia masih menduduki peringkat 17 dunia dengan produksi semen 35 juta ton per tahun. Di Asia Tenggara, Indonesia berada di peringkat ke-3 setelah Vietnam yang menduduki peringkat ke-8 dunia dengan produksi 65 juta ton, dan Thailand yang menduduki peringkat ke-13 dunia dengan produksi 35 juta ton.
"Rencananya tahun ini produksi semen kita mencapai 88 juta ton karena akan ada 5 pabrik produksi semen baru di Indonesia dan langsung produksi di semester II. Saat ini produksi semen kita 70 juta ton adanya 5 pabrik baru itu akan menambah komposisi produksi lebih dari 10 juta ton," katanya.
(wij/hen)











































