"Permintaan kopi kita ke AS cukup besar. Saat ini saja 50% ekspor kopi kita itu ke AS," ungkap Ketua Asosiasi Kopi Spesial Indonesia Agam L Pahlevi saat ditemui di Hotel Sahati, Ragunan, Jakarta, Kamis (28/08/2014).
Total ekspor biji kopi Indonesia (arabica dan robusta) pada 2009 sebesar 510.000 ton dengan nilai US$ 835 juta. Sedangkan 2010 agak menurun dengan jumlah tonasi sebesar 435.000 ton dengan nilai US$ 812 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Target tahun ini kita bisa ekspor mencapai US$ 1,5 miliar," imbuhnya.
Agam menjelaskan, besarnya ekspor biji kopi Indonesia khususnya arabica ke AS disebabkan karena menjamurnya kafe yang menjual kopi (coffee shop). Jumlah coffee shop di AS cukup besar dan sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat di sana.
Di tempat yang sama, pemilik Anomali Coffee Irvan Helmi berpendapat, sekarang coffee shop di AS memasuki era generasi ke tiga (the third wave). Maksudnya adalah kopi yang ditawarkan lebih banyak jenis specialty coffee yang banyak dihasilkan di Indonesia.
"Kalau kita lihat ada culture coffee yang baru terbentuk di AS. Berbeda dari kafe yang biasa, coffee shop di sana betul-betul memperhatikan kualitas dan identitas kopi yang erat sekali dengan specialty coffee. Selain kualitas dan cita rasanya, mereka (konsumen) sangat peduli tentang cerita asal-usul kopi dan kekhasan kopi yang diminum," jelasnya.
(wij/hds)











































