Ada ASEAN Open Sky, Bisakah Maskapai RI Bersaing?

Ada ASEAN Open Sky, Bisakah Maskapai RI Bersaing?

- detikFinance
Rabu, 10 Sep 2014 09:34 WIB
Ada ASEAN Open Sky, Bisakah Maskapai RI Bersaing?
Jakarta - Maskapai Indonesia ternyata harap-harap cemas menghadapi ASEAN Open Sky atau liberalisasi angkutan udara di wilayah Asia Tenggara Desember 2015. Pasalnya, ada beberapa tantangan di dalam negeri yang bisa membuat maskapai nasional kalah bersaing dengan maskapai negeri tetangga.

Masalah yang muncul antara lain biaya avtur yang lebih mahal, bea masuk suku cadang, hingga kondisi infrastruktur kebandarudaraan yang melebihi kapasitas. Jika kondisi ini tidak dibenahi atau memperoleh perhatian, maka maskapai Indonesia bisa kalah bersaing dengan maskapai ASEAN lainnya.

"Kita harus pastikan semua isu di domestik untuk mendorong pertumbuhan airlines. Kalau nggak, kita bisa kolaps dulu sebelum bertanding," kata Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Arif Wibowo kepada detikFinance di Jakarta, Rabu (10/9/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arif menjelaskan tentang kondisi harga bahan bakar pesawat jenis avtur. Di Indonesia, avtur dijual lebih mahal ketimbang negara-negara tetangga.

Hal ini tentunya menjadi beban tersendiri bagi maskapai Indonesia kala pemberlakuan ASEAN Open Sky. Avtur merupakan komponen biaya terbesar di maskapai.

"Avtur saja kita menghadapi perbedaan harga yang cukup signifikan. Kita berbeda 13% dengan negara ASEAN, kita lebih mahal," tegasnya.

Selain itu, lanjut Arif, maskapai juga terbebani bea masuk impor suku cadang pesawat. Mayoritas onderdil pesawat memang harus diimpor, sementara negara tetangga melakukan pembebasan bea masuk untuk impor suku cadang pesawat.

"Bea masuk komponen pesawat kami usulkan untuk 0%. Negara lain diberlakukan seperti itu," sebutnya.

Untuk mendukung ASEAN Open Sky, tambah Arif, Indonesia juga membutuhkan infrastruktur bandara yang mumpuni. Jika kondisi bandara masih sangat padat, maka maskapai akan terbebani oleh biaya operasi karena pembakaran avtur lebih tinggi.

"Pesawat kalau di taxi-nya 30 menit, itu hampir 1 ton avtur untuk sekelas Airbus 320. Jadi sangat signifikan. Belum yang holding atau tunggu pendaratan," paparnya.

Arif memberi contoh beberapa maskapai Indonesia yang telah gulung tikar. Mayoritas terbebani oleh tingginya biaya yang ditanggung. Apalagi adanya gejolak kurs karena mayoritas biaya di maskapai berbentuk valuta asing seperti dolar Amerika Serikat (AS).

(feb/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads