Akibatnya muncul persaingan ekstra antar maskapai. Berbeda dengan maskapai yang cemas, operator bandara justru bisa memperoleh 'durian runtuh" alias berkah dari kebijakan ASEAN Open Sky. Jumlah frekuensi pesawat dan penumpang justru meningkat tajam akibatnya penerimaan tarif pun ikutan terkerek naik.
"Kalau ASEAN Open Sky lebih kepada airlines dampaknya kalau kepada bandara tidak terlalu berdampak justru kita ada peningkatan frekuensi penumpang dan pesawat," kata Sekretaris Perusahaan PT Angkasa Pura II (Persero) Daryanto kepada detikFinance, Rabu (10/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat adanya kenaikan frekuensi penerbangan dan penumpang, maka Angkasa Pura II sudah bersiap-siap. Salah satunya adalah meningkatkan kapasitas terminal dan runway pada bandara super sibuk di Cengkareng.
"Bandara telah mengantisipasi pergerakan pesawat dan penumpang. Kita sedang tingkatkan kapasitas dengan pembangunan terminal 3 (unlimited). Dia bisa operasi akhir 2015. Sama peningkatan kapasitas runway," sebutnya.
Meski ada ASEAN Open Sky, operator bandara tidak serta merta bisa melakukan penyesuaian tarif secara bebas. Angkasa Pura II tetap harus meminta restu regulator.
"Tarif itu kebijakan regulator," jelasnya.
(feb/ang)











































