Karena pesawat ATR terus berdatangan, maka maskapai pelat merah ini mengalami kendala di dalam mendidik atau mencari pilot yang bisa membawa pesawat ATR. Pasalnya sekolah pilot di tanah air sudah penuh atau tidak bisa melahirkan pilot khusus untuk menyopiri ATR sedangkan permintaan tenaga pilot baru dan terlatih sangat tinggi.
"Garuda kekurangan pilot terutama pilot ATR. Akhirnya Garuda mendidik pilot ATR ke Kolombia. 2 minggu lagi sudah selesai sekolahnya," kata Dahlan usai rapat pimpinan BUMN di kantor pusat Djakarta Lloyd, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (18/9/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terus terang saja, ATR belum bisa dipakai sepenuhnya karena kurang pilot," jelasnya.
Bahkan Dahlan bercerita tentang pengalaman Garuda saat ingin membajak atau menarik penerbang pesawat ATR dari maskapai tanah air. Rencana itu dibatalkan karena pertimbangan khusus.
"Garuda pernah membajak 6 pilot ATR perusahaan swasta. Terus pemilik perusahaan itu datang ke Garuda dengan satu ekspresi yang menandakan kalau ini jadi diambil Garuda, maka kami akan menutup perusahaan ini sehingga tidak jadi," paparnya.
Melihat krisis sekolah penerbangan dan kekurangan pilot, sedangkan permintaan sangat tinggi, maka Dahlan mengeluarkan wacana agar Garuda membuka sekolah pilot baru.
"Usul yang baik (membuka sekolah pilot)," jelasnya.
(feb/ang)










































