Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan, kenaikan tarif listrik industri sudah terjadi beberapa kali di tahun ini, yang terakhir 1 September 2014. Parahnya lagi, nilai tukar rupiah menunjukkan tren melemah hingga dolar tembus Rp 12.200.
"Yang kita khawatirkan bukan dolarnya saja, yang langsung masuk ke jantung kita itu naiknya tarif listrik," kata Ade kepada detikFinance, Kamis (9/10/2014)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau soal dolar masuk kalkulasi tapi masih di bawah 1%, tapi kalau listrik itu di struktur biaya sudah 15%," katanya.
Ade menambahkan, kondisi listrik industri yang sudah tinggi dan melemahnya rupiah membuat pelaku industri TPT mendapat beban dua kali lipat. Apalagi tahun ini ada kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) yang cukup memberatkan industri.
"Jadi istilahnya dengan kejadian ini, sama seperti orang yang sudah jatuh tertimpa tangga juga, sudah listrik naik, dolarnya menguat, sehingga biaya naik, tapi pasar lesu," katanya.
(hen/hds)











































