"Harga rumput laut kering sering naik-turun tidak stabil bahkan anjlok. Harga puncak Rp 14.000/kg kalau paling rendah Rp 8.000/kg idealnya Rp 12.000/kg. Harga turun karena tengkulak bermain," ujar Moksen Rahantan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tual saat ditemui detikFinance di kawasan Namser, Kota Tual, Maluku, Senin (13/10/2014).
Moksen mengungkapkan dulu harga rumput laut sering anjlok hanya pada momen-momen tertentu saja seperti menjelang hari raya Natal dan tahun ajaran baru. Pengepul sengaja datang langsung ke petani rumput laut, lalu menembak harga yang cukup rendah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu pemicu lainnya adalah tidak adanya sistem resi gudang (SRG) untuk rumput laut. Padahal dengan cara itu, harga rumput laut bisa dikontrol pemerintah kota dan meminimalisir kerugian petani dari anjloknya harga.
"Jelas petani rugi, hitungannya 1 kg chip (rumput laut olahan bahan dasar tepung karagenan) rumput laut dihasilkan dari 3 kg rumput laut kering. Harga per kg rumput laut kering sekarang hanya Rp 9.000/kg, chip harga sudah Rp 70.000/kg," paparnya.
Kemudian masalah lainnya muncul. Dengan produksi rumput laut yang cukup besar, Kota Tual hanya mempunyai 1 unit pabrik pengolahan rumput laut dengan kapasitas olah 5 ton rumput laut kering dengan produksi 2,3 ton chip per hari. Pabrik ini adalah hasil inisiasi kerjasama antara Pemkot Tual dengan Kementerian Perindustrian.
"Kalau dilihat pabrik pengolahan ini memang belum bisa menampung jumlah seluruh produksi rumput laut di Kota Tual. Kita ingin tambahan 4 link lagi dari saat ini hanya 2 link. Lalu kita minta SRG. Kalau itu disediakan semua nelayan rumput laut di Kota Tual ini sejahtera," tegasnya.
(wij/ang)











































