Bikin Bengkel Pesawat di Batam, Lion Gandeng Perusahaan Asing

Bikin Bengkel Pesawat di Batam, Lion Gandeng Perusahaan Asing

- detikFinance
Rabu, 15 Okt 2014 17:46 WIB
Bikin Bengkel Pesawat di Batam, Lion Gandeng Perusahaan Asing
Jakarta -

Induk maskapai Lion Air, yaitu Lion Group, sedang mengembangkan pusat MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) atau bengkel perawatan pesawat raksasa di Batam. Untuk mendukung operasional bengkel pesawat tersebut, Lion Group menggandeng CFM Internasional.

CFM Internasional merupakan produsen mesin pesawat komersial dunia yang dimiliki oleh Scecma Prancis dan General Electric Amerika Serikat.

Alasan menggandeng perusahaan mesin dunia tersebutm karena ratusan pesawat milik Lion Group memakai mesin dari CFM International.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita memang punya pemesanan 642 pesawat tipe narrow body yang diproduksi oleh Boeing dan Airbus. Mesinnya pakai CFM. Ini salah satunya dikaitkan penggunaan mesin," kata Direktur Umum Lion Group Edward Sirait di acara penandatanganan kesepakatan material dan konsultasi di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta, Rabu (15/10/2014).

Melalui kerjasama perawatan pesawat ini, Lion Air merencanakan ada program transfer ilmu dan kemampuan kepada insinyur pesawat lokal.

"Kita berharap ada alih teknologi. Ini keuntungan bagi airlines Indonesia. Lion Group untuk pelaksanaan overhaul (perawatan menyeluruh) bisa lebih singkat dan biaya akan lebih hemat," sebutnya.

Bengkel pesawat ini mulai dibangun 2015m dengan masa konstruksi selama 3 tahun. MRO ini berada pada area Batam Aero Technic milik Lion Group. Hanggar pesawat yang dibangun mencapai 6 unit.

"Investasi untuk pengembanga Batam Aero Technic hampir Rp 5,5 triliun. Kalau khusus MRO sekitar Rp 2 triliun sampai Rp 2,5 triliun berikut equipment-nya," jelasnya.

Saat beroperasi nanti, bengkel pesawat ini nantinya mampu menyerap hingga 6.000 teknisi pesawat. Sementara itu, Direktur Teknik Lion Group I Nyoman Rai Pering menjelaskan, tahap awal kapasitas bengkel mampu merawat hingga 200 mesin setiap tahunnya. Saat ini, Lion Air masih mengirim pesawatnya ke bengkel di Tiongkok, Jerman, hingga Amerika untuk perawatan pesawat.

"Tiga tahun ke depan, perawatan dilakukan di dalam negeri. Kita bisa hemat pengeluaran. Selain itu ada banyak tenaga kerja yang direkrut di sini. Itu pekerja yang membutuhkan skill yang mumpuni," paparnya.

Fase awal, bengkel ini diperuntukan untuk pesawat narrow body sekelas ATR, Boeing 737, dan Airbus 320. Namun desain hanggar dirancang untuk besawat berbadan lebar sekelas Boeing 777.

Pangsa pasar bengkel ini nantinya 70% diperuntukkan untuk pesawat milik Lion Group dan sisanya untuk umum.

"Ini lebih diprioritaskan dipakai untuk maskapai kita. Kalau maskapai lain sekitar 30%," jelasnya.

(feb/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads