Salah satu faktor pemicunya adalah serbuan gula rafinasi impor ke pasar tradisional. Seharusnya gula rafinasi hanya masuk ke pasar industri seperti industri makanan dan minuman.
"Harga gula saat ini anjlok. Terakhir harga gula lelang hanya Rp 7.800 per kg jauh lebih rendah dari harga patokan petani (HPP) gula kristal putih (GKP) Rp 8.500 per kg. Ini kasus di PTPN XIV Sulawesi Selatan," ungkap Direktur Utama PT RNI (Persero) Ismed Hasan Putro saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN Jakarta, Senin (20/10/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Jatim ada 500.000 ton gula yang belum laku terjual. Jumlah ini mampu memenuhi persediaan permintaan gula di Jawa Timur hingga 3 tahun," imbuhnya.
Anjloknya harga dan rendah tingkat serap gula lokal di pasar menjadi penyebab kerugian yang cukup besar yang dialami pabrik gula (PG). Jumlah kerugian bahkan ditaksir mencapai Rp 1 triliun.
"Seluruh pabrik gula BUMN jumlahnya ada 52 PG yang beroperasi 32 PG rugi sekitar Rp 1 triliun akibat serbuan gula rafinasi impor. Faktanya banyak BUMN gula sekarang yang membayar karyawan dan vendor bisnis dengan gula bukan dengan uang. Gula mereka tidak bisa diserap pasar karena dikuasai gula rafinasi impor," paparnya.
(wij/hen)











































