Pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) menyambangi kantor Kementerian Perindustrian untuk bertemu Saleh Husin.
"Yang pertama kita biasa, kalau pergantian menteri itu kita perkenalan Asmindo," kata Ketua Umum Asmindo Taufik Gani, usai pertemuan, Kamis (6/11/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami minta dibantu agar UKM perindustrian mengikuti pameran," tuturnya.
Selain itu, yang tak kalah penting adalah terkait keluhan para pengusaha karena mahalnya produk aksesoris pendukung furnitur di dalam negeri.
Dia mengatakan, akseseoris seperti blok panel untuk laci, engsel, fitting, mur, baut dan semacamnya kini banyak diimpor, karena harganya lebih murah dibanding harus membelinya dari produsen dalam negeri.
"Perbandingannya untuk 1 pieces itu di sini Rp 15 ribu atau Rp 20 ribu, kalau kita dari Tiongkok dan Taiwan itu bisa Rp 3.000 atau Rp 4.000," katanya.
Dia berharap bisa dibentuk satu badan yang tugasnya mengimpor barang-barang tersebut. Karena saat ini, pengusaha furnitur baru boleh mengimpor jika kuantitasnya banyak. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar.
"Yang perusahaan kecil, UKM itu masih pakai dalam negeri," katanya.
(zul/dnl)











































