Wakil Ketua Bidang Infrastruktur Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Irwan H. Marbun bercerita, perusahaan konstruksi yang dipimpinnya, yaitu PT Bangun Bejana Baja, mendapat proyek pembangunan tangki minyak (oil tank) di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau.
Proyek tangki tersebut dimiliki oleh sebuah perusahaan Jerman, yang dibangun dengan investasi US$ 300 juta. Saat ini, tangki berkapasitas 1,5 juta kiloliter (KL) itu disewa oleh Singapura untuk menyimpan cadangan BBM mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini disampaikannya dalam acara Indonesia International EPC Conference and Exhibition, di JCC, Senayan, Jakarta, Rabu (26/11/2014).
Alasan Singapura memilih Tanjung Balai Karimun, adalah karena daerah itu masuk ke dalam free trade zone (FTZ), sehingga ada insentif pajak, seperti pembebasan bea masuk dan bea keluar.
Pada kesempatan tersebut, Irwan juga menyinggung soal proyek-proyek migas Indonesia yang 70% dikuasai oleh kontraktor asing.
Perusahaan kontraktor dalam negeri tidak bisa bersaing karena tidak ada dukungan dana dari perbankan. Nilai proyek migas yang besarnya bisa triliunan rupiah sulit dimasuki kontraktor lokal. "Untuk masuk maka harus menyiapkan jaminan 50% dari nilai proyek. Kita kalah di situ, sementara perusahaan asing didukung oleh bank," jelas Irwan.
Kalangan insinyur berharap adanya bank khusus pembiayaan infrastruktur, seperti Bapindo di zaman Presiden Soeharto.
(dnl/hen)











































